Istanbul (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya saat ini sedang menghadapi "perang berskala penuh" di bidang ekonomi, militer, dan keamanan, tetapi pemerintahnya berkomitmen penuh untuk mengatasi seluruh kesulitan tersebut.
"Kami sedang menghadapi perang ekonomi, militer, dan keamanan berskala penuh," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan kantor berita milik Iran, IRNA, pada Minggu (23/8).
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menyatakan hal itu untuk menanggapi ancaman sanksi ekonomi terbaru yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Trump dengan mudah mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi paling berat atau paling mengerikan kepada Iran," tambahnya.
Pezeshkian menegaskan Iran tetap berdiri teguh dan berusaha melayani masyarakat di tengah situasi perang yang tidak seimbang, sekaligus menolak anggapan musuh bahwa Iran akan runtuh akibat tekanan eksternal.
"Musuh menilai jika Iran jatuh, maka negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak terjadi, Iran justru menjadi kekuatan yang mengagumkan lewat perlawanan dan solidaritas," tegas Pezeshkian.
Pemerintah Iran juga terus bekerja keras menjaga persatuan nasional guna menghindari perpecahan internal di tengah eskalasi tekanan ekonomi dan keamanan yang kian meningkat.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni, lewat mediasi Pakistan dan Qatar, untuk mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari. Dalam kesepahaman itu, keduanya sepakat untuk melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, ketegangan kedua negara kembali memuncak setelah perundingan tindak lanjut nota kesepahaman antara Iran dan AS menemui jalan buntu akibat perselisihan skema navigasi di Selat Hormuz.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pezeshkian: Iran sedang hadapi perang berskala penuh
Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.