Petugas ATC Mulai Diganti AI, Ahli Ngeri Halusinasi Ancam Bandara

2026/09/23

Jakarta, CNBC Indonesia - Bayangkan sebuah bandara besar yang seluruh operasinya dikendalikan oleh sistem cerdas. Pesawat lepas landas dan mendarat atas perintah algoritma, bagasi diatur oleh robot, jalur penerbangan ditentukan tanpa campur tangan manusia.

Di satu sisi, sistem ini terlihat lebih cepat, lebih rapi, dan lebih hemat biaya. Namun di sisi lain, ada ancaman yang sangat serius yaitu sistem bisa salah mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas, dan ketika itu terjadi, bandara bisa berubah menjadi kekacauan total. Itu yang menjadi peringatan utama dalam laporan terbaru mengenai risiko sistem otomatis di sektor transportasi, dikutip dari Futurism, Rabu (23/9/2026).

Sistem cerdas yang dimaksud adalah teknologi yang dirancang untuk mengendalikan lalu lintas udara, operasi bandara, hingga jadwal penerbangan secara otomatis. Teknologi ini dianggap sebagai masa depan transportasi udara, terutama untuk bandara sibuk yang menangani ribuan penerbangan setiap hari.

Namun para ahli memperingatkan bahwa sistem ini tidak boleh sepenuhnya menggantikan manusia. Alasannya sederhana yaitu sistem bisa mengalami apa yang disebut sebagai hallucination atau "halusinasi", yaitu menghasilkan keputusan yang tampaknya logis tetapi sebenarnya salah, berbahaya, dan tidak dapat dijelaskan.

Pemerintah federal Amerika Serikat mulai menggunakan AI dalam sistem air traffic control di beberapa bandara paling ramai di AS. Rencana ini direspons kritik, salah satunya dari eks petugas ATC bandara.

Todd Sheridan Yeary, yang berpengalaman 13 tahun sebagai petugas ATC, mengungkapkan bahwa sistem Strategic Management of Airspace, Routes and Trajectories atau SMART yang akan digunakan di AS masih misterius. Praktisi penerbangan masih bingung cara sistem tersebut akan digunakan di bandara.

"Hal pertama yang terpikirkan, ini mau buat apa?" kata Yeary dalam wawancara dengan News Nation. "Jika AI akan memberikan saran soal cara mengelola konflik di lapangan udara, terutama di bandara yang ramai, pertanyaannya berbeda. ATC adalah lingkungan yang sangat dinamis."

Dia menjelaskan bahwa kondisi di lapangan udara selalu berubah. Namun hal utama yang menjadi perhatian dari Yeary adalah halusinasi AI.

"AI diketahui sering memberikan data dan informasi yang tidak akurat dan tidak terverifikasi, serta dari mana sumber informasi ini. Jika sumbernya dari jadwal penerbangan, tetap harus ada ruang untuk direvisi, revisi itu harus diberikan oleh petugas manusia," kata Yeary.

Apa Itu "Halusinasi" Sistem AI?

Dalam konteks bandara, halusinasi berarti sistem melihat sesuatu yang tidak ada, atau memutuskan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Misalnya:

Kesalahan seperti ini seringkali tidak terdeteksi pada awalnya. Sistem AI terlihat bekerja normal, sampai tiba-tiba terjadi keputusan yang sangat salah. Ketika manusia sudah tidak lagi terlibat dalam proses pengawasan, kesalahan itu bisa berlangsung lebih lama dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

Sistem otomatis memang mampu memproses data jauh lebih cepat daripada manusia. Sistem bisa membaca ribuan titik data dalam hitungan detik, mulai dari kecepatan angin, ketinggian pesawat, jadwal landasan, hingga kondisi mesin. Namun ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh manusia, terutama ketika situasi di luar kebiasaan terjadi. Misalnya, pesawat yang mengalami gangguan teknis di saat-saat terakhir.

Salah satu masalah terbesar adalah pertanggungjawaban. Jika manusia membuat kesalahan, ada proses penyelidikan, ada sanksi, dan ada pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Tetapi jika sistem cerdas yang membuat kesalahan, pertanyaannya menjadi lebih rumit.

Indonesia memiliki beberapa bandara besar yang lalu lintasnya sangat padat, terutama Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, dan Bandara Juanda. Dalam beberapa tahun ke depan, sistem otomatis di bandara-bandara ini kemungkinan akan semakin banyak digunakan. Teknologi ini memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga harus diikuti dengan kesiapan pengawasan manusia.

Jika sistem otomatis diterapkan tanpa pengawasan yang memadai, risiko kekacauan bisa menjadi lebih besar. Bayangkan jika Bandara Soekarno-Hatta yang melayani jutaan penumpang setiap bulan mengalami kegagalan sistem otomatis. Dampaknya tidak hanya terasa di Jakarta, tetapi juga bisa menyebar ke seluruh jaringan penerbangan di Indonesia bahkan internasional.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]