Petani Kakao Mojokerto didorong terapkan sistem ERP - ANTARA News Jawa Timur

2026/08/20

Mojokerto (ANTARA) - Petani Kakao yang ada di Kabupaten Mojokerto didorong untuk menerapkan teknologi pengolahan limbah kulit kakao menjadi pupuk organik serta sistem Enterprise Resource Planning (ERP) melalui program pengabdian masyarakat dosen UPN "Veteran" Jawa Timur bersama Kelompok Tani Mulyo Jati Cokelat Mojopahit, Mojokerto.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UPN Veteran Jatim Gyska Indah Haruya dalam keterangannya di Mojokerto, Kamis mengatakan program ini diarahkan untuk memperkuat agroindustri kakao dari sektor hulu hingga hilir.

"Petani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga mengoptimalkan hasil samping dari proses pengolahan kakao," kata Gyska didampingi tim, masing-masing Siti Mukaromah, Nova Triani, serta Cholid Fadil.

Ia mengemukakan, tim juga memperkenalkan sistem ERP untuk memperkuat manajemen usaha kelompok tani. ERP digunakan untuk membantu pencatatan bahan baku, persediaan, proses produksi, kebutuhan produksi, hingga pengendalian mutu. Sistem tersebut juga dapat mendukung keterlacakan produk dari bahan baku hingga produk akhir.

"ERP membantu kelompok tani bekerja lebih tertib dan berbasis data. Informasi mengenai stok, bahan baku dan produksi bisa dipantau secara lebih cepat,” jelas Gyska.

Menurut dia, digitalisasi menjadi penting karena pengembangan agroindustri tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi.

"Ketika skala usaha berkembang, pencatatan tidak bisa lagi dilakukan secara terpisah. Data harus terintegrasi agar keputusan usaha dapat dibuat lebih cepat dan lebih tepat," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu potensi yang dikembangkan adalah pemanfaatan kulit buah kakao karena selama ini kulit kakao menjadi limbah organik dalam jumlah cukup besar setelah biji dikeluarkan.

"Jika dibiarkan, limbah tersebut dapat menumpuk di sekitar kebun dan lokasi produksi. Namun, kulit kakao sebenarnya dapat diolah kembali menjadi pupuk organik," katanya.

Dalam pendampingan, petani dikenalkan dengan proses pengolahan kulit kakao mulai dari pemilahan, pencacahan hingga pengomposan.

Ia menjelaskan, pencacahan dilakukan agar proses penguraian bahan organik berlangsung lebih cepat. Kulit kakao yang telah dicacah kemudian dicampur dengan bahan organik pendukung. Kelembapan, aerasi serta aktivitas mikroorganisme juga dikontrol selama proses pengomposan.

"Petani kami dampingi agar memahami prosesnya, bukan sekadar menghasilkan pupuk. Suhu, kelembapan, tekstur dan kondisi bahan harus dipantau sampai pupuk benar-benar matang," katanya.
 

Pewarta: Indra Setiawan
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.