Petani Cianjur berburu air hingga ke curug

2026/09/25

Cianjur (ANTARA) - Petani mencari sumber air untuk menyirami ladang di kaki gunung mungkin merupakan pemandangan yang jarang terjadi. Namun, kemarau panjang membuat petani di Cianjur berburu air hingga ke air terjun.

Pemandangan itu terlihat di sepanjang kaki Gunung Gede-Pangrango, Kabupaten Cianjur. Sejak empat bulan lalu, sungai dan saluran air di kawasan tersebut mengering sehingga pipa dan slang plastik menghiasi jalan setapak menuju ladang.

Sumber air dengan debit yang terus berkurang membuat petani harus mencari cara mendapatkan air agar tanaman tetap tumbuh. Hujan yang dinanti hingga September tak kunjung turun. Kalaupun hujan turun, intensitasnya masih rendah sehingga belum cukup memenuhi kebutuhan tanaman sayuran.

Setiap hari, puluhan petani dari sejumlah desa bergotong royong membersihkan saluran air dan sungai yang masih menyisakan air. Air ditampung dalam bak darurat berbahan terpal sebelum dialirkan ke ladang dan perkampungan.

Bak penampungan dialiri air dengan memanfaatkan gravitasi. Meski debitnya tidak besar, air tersebut menjadi harapan petani untuk menyiram tanaman, sementara sebagian dialirkan ke perkampungan untuk kebutuhan rumah tangga.

Baca juga: Jejak air di balik kecerdasan buatan

Pipa dan slang plastik yang terpasang hingga 2 kilometer memanjang sampai ke perkampungan dan dijaga setiap hari agar air tetap mengalir. Bak penampungan baru dan pipa induk berukuran besar juga terus dibuat, baik secara swadaya maupun dengan bantuan pemerintah dan sejumlah wakil rakyat.

Ruhiyat (56), petani Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, mengatakan kesulitan air di kawasan perkebunan teh Gedeh semakin parah setelah gempa bermagnitudo 5,6 pada 2022. Sumber air yang sebelumnya tersedia seakan menghilang.

Untuk mendapatkan sumber lain, petani mencari mata air yang lebih jauh di kaki gunung, sekitar 4–6 kilometer dari ladang. Mereka menyambungkan batang pipa agar air sampai ke bak penampungan bersama.

Sebuah bak penampung air terlihat di sebuah lahan pertanian di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. (ANTARA/Ahmad Fikri)

Hampir setiap pekan, petani bergantian melakukan pemeliharaan dan membagi air agar tetap merata ke sejumlah wilayah, termasuk perkampungan warga. Kondisi itu dinilai tidak semestinya terjadi di wilayah hulu yang selama ini banyak menyimpan air.

"Tidak hanya kemarau, sekarang sejak tiga tahun terakhir, kami di kaki gunung sudah kesulitan mendapatkan air untuk pertanian dan rumah tangga. Namun, tahun ini cukup panjang dan berat sehingga berbagai sumber terus diupayakan," katanya.

Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.