Jakarta, CNN Indonesia --
Krisis iklim meningkatkan suhu air yang membuat terumbu karang menjadi pucat dan tidak sehat. Riset terbaru menemukan metode untuk mempercepat pemulihan terumbu karang terdampak masalah ini.
Warna pada terumbu karang berasal dari alga yang bermanfaat untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan untuk tumbuh. Namun, alga tersebut bisa lepas dan menghilang akibat menghangatnya suhu air.
Dikutip dari Stanford Doerr School of Sustainability, hilangnya alga pada terumbu karang menjadikannya pucat, kelaparan, dan rentan terhadap invasi alga berbahaya. Setelah kondisi ini, perlu waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk terumbu karang kembali sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut beberapa perkiraan, terumbu karang dapat menghilang dalam beberapa dekade ke depan karena perubahan iklim yang mendorong gelombang panas laut yang lebih sering dan intens.
Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Rabu (14/10) menemukan cara untuk mengembalikan alga yang telah memutih dengan menempelkannya ke terumbu karang yang masih sehat.
"Bakteri berbahaya masuk ke terumbu karang melalui kontak fisik. Kami penasaran apa yang akan terjadi jika kami menggunakan kontak fisik serupa untuk menularkan kembali alga bermanfaat dari terumbu karang yang sehat," kata Danny Collins, peneliti utama riset dari Stanford Doerr School of Sustainability.
Pada penelitiannya, Collins mengumpulkan 10 pasang sampel terumbu karang yang telah memutih dan masih sehat dari jenis yang sama atau identik. Lima pasang ia letakkan menempel bersentuhan, sementara lima lainnya diletakkan dengan celah beberapa milimeter.
Terumbu karang memutih yang diletakkan bersentuhan dengan yang sehat pulih sepenuhnya dalam 7 pekan, sementara terumbu karang memutih yang tidak bersentuhan dengan yang sehat berakhir mati.
"Jaringan mereka menyatu jika berasal dari klon yang sama. Kita melihat sesuatu yang serupa pada manusia. Transplantasi organ seringkali berhasil jika pendonor adalah pasangan kembar identiknya," kata profesor kelautan di Doerr School of Sustainability, Steve Palumbi.
Para peneliti menemukan saluran mikroskopis di jaringan karang tak lama setelah bersentuhan, menciptakan jalur transportasi antar karang. Alga dan nutrisi yang dihasilkannya mengalir melalui saluran-saluran ini.
Mereka mengamati bahwa durasi memengaruhi tingkat pemulihan, alga mulai berpindah dari terumbu karang yang sehat ke terumbu karang yang telah memutih dalam waktu tiga hari setelah mereka bersentuhan.
Pasangan terumbu karang yang dipisahkan setelah 5-7 hari bersentuhan diketahui mampu menerima cukup alga untuk menyelesaikan pemulihannya sendiri. Terumbu karang tersebut hanya membutuhkan waktu 7 pekan setelah dipisahkan untuk pulih sepenuhnya.
"Begitu alga memasuki karang yang mengalami pemutihan, mereka tidak hanya menyebar, mereka membanjiri karang dan mulai membelah diri dengan kecepatan tercepat yang pernah terlihat pada karang," kata Palumbi.
Alga di terumbu karang yang memutih akan berlipat ganda setiap empat hari setelah satu minggu ditempelkan dengan terumbu karang yang sehat, waktu tersebut kira-kira sepuluh kali lebih cepat daripada pertumbuhan alga pada karang yang dibiarkan begitu saja.
"Terumbu karang yang memutih sering dianggap sebagai kasus yang tidak dapat diselamatkan karena pemulihan setelah gelombang panas sangat lambat, bahkan mungkin tidak terjadi sama sekali," kata Fiorenza Micheli, penasihat peneliti yang juga direktur Stanford Center for Ocean Solutions.
Lebih lanjut, para peneliti berencana melanjutkan risetnya untuk mencari cara alternatif untuk menularkan alga ke terumbu karang yang memutih tanpa harus ditempelkan terus menerus.
Menurut perkiraan mereka ini dapat dilakukan dengan mengambil alga dari karang yang sehat jauh sebelum gelombang panas melanda, lalu menyalurkannya dalam jumlah besar ke terumbu karang yang memutih.
"Wawasan baru ini membuka pintu menuju kemungkinan yang ada dan dapat mengarah pada terobosan yang kita butuhkan untuk mempercepat restorasi terumbu karang," kata Micheli.
(fta/lom)