"Kami mulai kesulitan membaca cuaca yang cepat berubah. Bahkan, orang-orang Bali yang terkenal piawai membaca cuaca juga kesulitan,"
Mataram (ANTARA) - Fenomena perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi dan mempengaruhi aktivitas nelayan lokal di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Kami mulai kesulitan membaca cuaca yang cepat berubah. Bahkan, orang-orang Bali yang terkenal piawai membaca cuaca juga kesulitan," ucap Baharudin saat ditemui di sela aktivitas memperbaiki jaring di pesisir Ampenan, Mataram, Selasa.
Nelayan berusia 54 tahun itu bercerita perubahan pola cuaca membuat pengetahuan tradisional yang selama ini menjadi acuan nelayan dalam membaca kondisi laut tidak lagi akurat.
Baharudin bercerita pengalaman masa kecilnya tentang pesisir Kota Tua Ampenan. Menurut dia, tiga dekade lalu, garis pantai berada jauh sekitar 50 meter dari posisi saat ini.
Abrasi dan kenaikan muka laut mempercepat pengikisan daratan membuat laut semakin dekat ke daratan, sehingga mengancam keberadaan rumah para nelayan lokal.
Tanda-tanda alam berupa arah angin, bentuk awan, maupun pola gelombang kini kerap berubah secara tiba-tiba. Langit yang cerah saat pagi dapat berubah cepat menjadi hujan lebat disertai angin kencang ketika nelayan sudah berada di tengah laut.
Kondisi itu meningkatkan risiko keselamatan saat melaut. Banyak nelayan memilih mengurangi aktivitas di laut terutama saat musim pancaroba yang seringkali mendatangkan cuaca ekstrem pada Januari hingga Maret.
Nelayan tidak hanya menghadapi cuaca tidak menentu, tetapi juga merasakan penurunan populasi ikan di perairan dekat pantai. Mereka kini harus melaut lebih jauh untuk daerah penangkapan yang produktif, sehingga kebutuhan bahan bakar meningkat.
Nelayan lainnya bernama Bahri mengatakan kondisi itu membuat aktivitas melaut jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu karena karena jarak tempuh yang semakin jauh.
"Kalau musim ikan dulu kan semua melaut. Sekarang,tetangga-tetangga ada yang pergi satu orang, dua orang saja," ucap pria berusia 60 tahun tersebut.
Kerusakan lingkungan pesisir turut memperparah dampak perubahan iklim. Vegetasi alami pohon waru yang banyak tumbuh di sepanjang garis pantai untuk menahan angin dan ombak kini telah hilang, sehingga mempercepat laju abrasi.
Pemerintah menyadari perubahan iklim adalah ancaman serius bagi daerah kepulauan, seperti Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari dua pulau besar dan 401 pulau kecil.
Nusa Tenggara Barat menghadapi laju kenaikan muka air laut sekitar 3,5 milimeter per tahun di Lombok bagian utara dan 6,5 milimeter per tahun di Lombok bagian selatan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan dari total 1.166 desa/kelurahan di Nusa Tenggara Barat sebanyak 25,04 persen atau setara 292 desa/kelurahan berbatasan langsung dengan laut.
Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair menegaskan penguatan kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah sebagai langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB 2025-2029 memuat program unggulan NTB Lestari Berkelanjutan.
Pewarta : PKL IAIH Pancor
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026