Periksa Gigi Berujung Petaka, 12 Gigi Lansia Ini Dicabut Sekaligus

2026/07/13

Jakarta -

Seorang pria berusia 63 tahun di China mengalami kejadian yang mengejutkan setelah datang ke klinik gigi hanya untuk memeriksakan satu gigi yang terasa sakit. Bukannya mendapat perawatan sederhana, ia justru kehilangan seluruh 12 gigi yang masih dimilikinya dalam satu tindakan medis.

Melansir SCMP, pria bermarga Li itu mendatangi Datuanyuan Dental Clinic di Kota Baoji, Provinsi Shaanxi, pada September tahun lalu. Ia mengaku tertarik berobat setelah melihat iklan klinik yang menjanjikan pasien bisa memasang implan gigi pada pagi hari dan kembali makan daging di sore harinya. Bahkan, pihak klinik menyediakan mobil jemputan serta pemeriksaan gratis.

Namun setelah menjalani pemeriksaan, Li menjalani pencabutan seluruh 12 giginya sekaligus dan dipasangi 10 implan gigi. Tak hanya itu, biaya perawatan sebesar 18.800 yuan atau sekitar Rp 50,1 juta langsung diambil dari rekening dan dompet digital miliknya. Ia bahkan masih memiliki tagihan tambahan sebesar 6.200 yuan atau sekitar Rp 16,5 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Li mengaku sangat syok dengan kejadian tersebut. Saat ditemukan putranya, mulutnya masih dipenuhi darah dan uang yang tersisa hanya sekitar 30 yuan atau sekitar Rp 80 ribu, cukup untuk ongkos pulang dengan bus.

Keluarga Li semakin marah karena pria tersebut memiliki sejumlah penyakit serius, seperti penyakit jantung koroner, riwayat serangan jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, serta telah dipasangi empat ring jantung. Kondisi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan penting sebelum tindakan pencabutan gigi maupun pemasangan implan dilakukan.

Seorang dokter gigi dari Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan menjelaskan bahwa pasien diabetes sebaiknya baru menjalani implan gigi setelah kadar gula darahnya terkendali. Selain itu, pemasangan banyak implan dalam satu prosedur juga memiliki risiko tinggi.

Merasa ada kejanggalan, keluarga Li melaporkan klinik tersebut kepada dinas kesehatan setempat sebanyak tiga kali. Mereka menemukan sejumlah dugaan pelanggaran, mulai dari rekam medis yang tidak lengkap hingga data pasien yang mencantumkan jenis kelamin Li sebagai perempuan. Bahkan, dokumen konsultasi dengan dokter jantung baru diserahkan enam bulan setelah tindakan dilakukan sehingga keluarga meragukan keasliannya.

Hasil penyelidikan dinas kesehatan yang diumumkan pada Juli menyatakan bahwa klinik tersebut melakukan berbagai pelanggaran, termasuk tidak menawarkan pilihan pengobatan lain, tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum operasi, serta tidak menyimpan rekam medis sesuai standar.

Sebagai sanksi, pihak berwenang memerintahkan klinik mengembalikan seluruh biaya pengobatan kepada Li dan menghentikan sementara operasional klinik untuk menjalani perbaikan. Kasus ini juga memicu kemarahan publik. Banyak warganet menilai Li sangat beruntung masih selamat setelah seluruh giginya dicabut dalam satu kali tindakan, sementara yang lain menyebut tindakan klinik tersebut sangat membahayakan keselamatan pasien.

(vio/vio)