ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penggunaan saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) sebagai agunan kredit dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kepada Jhonlin Group berhadapan dengan dinamika baru, yakni pelemahan harga saham.
Namun, hal ini tak serta-merta menjadi ancaman besar bagi bank.
Di tengah sentimen MSCI yang mengguncang pasar saham nasional, dalam sehari PGUN dan JARR kompak anjlok masing-masing sebesar 14,91% menjadi Rp 6.850 dan 14,98% menjadi Rp 2.270 pada akhir perdagangan Jumat (16/10/2026).
Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/ytd), harga saham PGUN telah susut 29,92%, sedangkan JARR amblas 29,72%.
Baca Juga: Komisaris Bank Mandiri (BMRI) Beli Saham Perusahaan, Segini Harganya
Meski harga saham yang dijadikan agunan melemah, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai neraca Bank Mandiri tak otomatis terancam.
Andrey menyoroti klarifikasi Bank Mandiri bahwa saham PGUN dan JARR hanyalah agunan tambahan, sementara fasilitas kredit tetap dijaminkan aset tetap dan aset lainnya, termasuk rekening perusahaan.
“Penurunan harga PGUN dan JARR memang mengurangi nilai pasar saham yang dijaminkan, tetapi tidak otomatis membuat total agunan lebih kecil daripada kredit,” jelas Andrey kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Untuk menilai dampak penurunan harga JARR dan PGUN terhadap kelangsungan neraca Bank Mandiri, Andrey bilang perlu diketahui outstanding kredit, keseluruhan nilai agunan setelah memperhitungkan haircut, serta kondisi pembayaran debitur
Bank Mandiri tak memberikan rincian terkait itu. Yang pasti, sumber pembayaran utama Jhonlin Group tetap berasal dari kemampuan usaha debitur menghasilkan arus kas.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Gandeng ITB Perkuat Layanan Perbankan dan Ekosistem Pendidikan
Pada prinsipnya, menurut Andrey, saham dengan likuiditas terbatas macam PGUN dan JARR berpotensi sulit dijual dalam jumlah besar tanpa menekan harga. Dus, penurunan harga saham memperbesar risiko pemulihan kredit jika terjadi gagal bayar. Namun, itu belum cukup untuk menyimpulkan gagal bayar.
Di luar itu, Andrey berpandangan Bank Mandiri tetap perlu memperbarui valuasi dan melakukan stress test agunan sebagai langkah mitigasi. Bank juga perlu memantau arus kas serta kepatuhan terhadap perjanjian kredit dan meminta tambahan jaminan atau pembayaran sebagian bila diperlukan sesuai ketentuan fasilitas.
Jika risiko kredit meningkat, kecukupan pencadangan juga perlu dievaluasi. “Fokus utamanya tetap kemampuan bayar debitur dan kecukupan seluruh jaminan, bukan hanya pergerakan harga kedua saham tersebut,” tukas Andrey.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag