Depok (ANTARA) - Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia ( UI) Andrinov Chaniago memberikan paparan tujuh pemimpin Asia yang sukses membangun perekonomian dengan pertumbuhan yang tinggi selama 2 sampai 3 dekade.
"Ada tujuh negara Asia yang bisa dipelajari atas keberhasilan ekonominya yaitu Singapura, China, Vietnam, Jepang, Taiwan, India dan Korea Selatan," kata Andrinov saat acara kuliah umum Ekonomi Politik dengan Tema Kepemimpinan Politik dan Transformasi Ekonomi: Pelajaran dari 7 Negara Asia di Kampus UI Depok, Senin.
Andrinov yang juga Menteri PPN/Kepala Bappenas RI 2014-2015 menjelaskan pemimpin Singapura Lee Kuan Yew melakukan kolaborasi pemimpin politik dan pemikir besar yang mempunyai ekonom hebat Goh Keng Swee, ekonom lulusan London School of Economics and Political Science.
Goh Keng Swee saja tidak cukup bagi Lee. la meminta lagi PBB mengirimkan seorang ekonom untuk merancang masa depan Singapura.
Baca juga: Pengamat: Proses seleksi bakal calon Dekan UI harus bebas intervensi
Singapura meraih pertumbuhan tinggi sepanjang 3 dekade, dari 1965 hingga 1996, dengan angka pertumbuhan rata-rata per tahun 9,5 persen.
Di Jepang ada Perdana Menteri Shigeru Yoshida (1946-1954) yang antara lain dibantu Profesor Hiromi Arisawa sebagai Kepala Penasehat Ekonomi
Perdana Menteri Hayato Ikeda (1960-1964) dibantu Profesor Osamu Shimomura yang kemudian dapat sebutan "Bapak Keajaiban Ekonomi Jepang"
Di Taiwan kepemimpinan Politik Chiang Khai-Sek (CKS) dalam Transformasi Ekonomi Taiwan bergandeng tangan dengan para pemikir Chen Cheng (mantan Gubernur Taiwan yang kemudian menjadi Perdana Menteri dan Wakil Presiden, oleh CKS dipandang ahli mengurus masalah ekonomi).
Di Vietnam, Konsep dan agenda strategis Dol Mol yang mulai dijalankan sejak tahun 1986 oleh Vietnam bukan rumusan tiba-tiba, melainkan hasil belajar dan perenungan selama 7 tahun dari tahun 1979 (Pham Van Thuy, 2020).
Baca juga: Pengamat: Konsep Danantara bisa contoh khazanah
Setelah agenda pembangunan fondasi ekonomi Doi Moi dicanangkan dan dijalankan tahun 1986, perdebatan untuk mencari penyempurnaan strategi dan model pembangunan ekonomi Vietnam terus berjalan hingga 1991.
Di Korea Selatan pemimpin Park Chung-hee dan arsitek ekonomi Jang Gi-Yeong diakui oleh para pengamat dan akademisi Korea Selatan sebagai arsitek utama perencanaan transformasi ekonomi Korea Selatan di masa awal pemerintahan junta militer pimpinan Park Chung-hee.
Jang Gi-Yeong tercatat punya prestasi sekolah cemerlang sejak muda dan meneruskan pendidikan tinggi di bidang bisnis. Meski lulus kuliah dengan prestasi cemerlang, tetapi ia tidak berkarir di perguruan tinggi, melainkan memilih menjadi profesional di dunia perbankan dan keuangan, lalu mendirikan usaha media dan penerbitan.
Pertumbuhan ekonomi Korsel rata-rata per tahun 1964-1984: 8,6 persen, 1985-1996 (Sebelum Krisis Asia 1997): 9.0 persen, 1985-2024: 5,4 persen.
Di India Manmohan Singh adalah pemimpin yang menganggap ilmunya tidak pernah cukup. Apalagi merasa superior
Perdana Menteri Narasimha Rao telah mengambil keputusan yang paling menguntungkan bagi India pada bulan Juni 1991 dengan mengangkat Manmohan Singh menjadi Menteri Keuangan.
Baca juga: Pengamat UI sebut perlu evaluasi efektivitas penegakan hukum kasus korupsi
Namun Manmohan Singh tetap mencari pendapat dan berdiskusi dengan para ahli lainnya (T.N. Sinivasan, Jagdish Baghwati, Amartya Sen, Rakesh Mohan dan lainnya).
Pemimpin China Deng Xiaoping bersama para pemikir selama tujuh tahun mencari model pembangunan.
Rancangan Strategi transformasi ekonomi China tidak berasal dari obsesi pribadi dan ide subyektif pemimpinnya, melainkan melalui proses pencarian ide dan pembahasan yang panjang dari tahun 1978 hingga 1985.
Deng dan para pemikirnya menghabiskan waktu 7 tahun melalui proses pencarian yang intensif sampai ditemukannya konsep strategi yang paripurna tentang cara membangun China.
"Indonesia perlu banyak belajar dari tujuh pemimpin Asia, agar ekonominya tumbuh tinggi dalam jangka panjang," demikian Andrinov.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.