Peneliti UIN Jakarta Hasilkan Alat Ukur Risiko Ekstremisme Digital |Republika Online

2026/10/08

Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengembangkan Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI), sebuah indeks yang dirancang untuk membantu membaca risiko ekstremisme keagamaan digital.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengembangkan Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI), sebuah indeks yang dirancang untuk membantu membaca risiko ekstremisme keagamaan digital.

DRERI merupakan salah satu keluaran riset bertajuk "Model Komunikasi Politik Digital Berbasis Trustworthy–Explainable AI untuk Pengukuran Risiko Ekstremisme Keagamaan di Indonesia". Penelitian tersebut juga mengembangkan desain Trustworthy–Explainable AI (TREX-AI) dan dashboard untuk mendukung pengukuran serta deteksi dini risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital. 

Ketua Tim Peneliti, Prof Gun Gun Heryanto, menjelaskan DRERI tidak dirancang untuk memberikan label kepada seseorang sebagai ekstrem atau tidak ekstrem. Indeks tersebut digunakan untuk membaca narasi yang muncul sekaligus melihat potensi perkembangannya.

“DRERI bukan alat pelabelan individu ekstrem atau tidak ekstrem, melainkan menjadi cara untuk melihat bagaimana deteksi atas narasi yang kemudian muncul sekaligus potensi-potensi ke depannya setelah narasi itu muncul,” ujar Prof Gun Gun dalam public expose hasil penelitian di UIN Jakarta, Tangerang Selatan, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, pengukuran risiko tersebut perlu memiliki standar yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, penelitian menggunakan pendekatan computational psychometrics yang diuji kepada responden dan diperdalam melalui focus group discussion (FGD).

“Standar pengukuran risiko yang objektif, tidak sepertinya, tidak seolah-olah karena kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang tadi diuji,” ucap dia.

Penelitian ini menghasilkan instrumen final yang terdiri atas 34 indikator dari 67 indikator awal. Instrumen tersebut mencakup Trustworthy–Explainable AI, Platform Governance, Digital Religious Framing, dan Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital. Skor risiko agregat dalam sampel penelitian tercatat 2,19 dan berada dalam kategori rendah. 

Namun, penelitian menemukan adanya sejumlah sinyal kerentanan yang tetap perlu diperhatikan. Persentase responden yang menyetujui sejumlah pernyataan berarah risiko berada pada kisaran 41,87 hingga 48,07 persen. Peneliti menegaskan angka tersebut merupakan ukuran kecenderungan dalam sampel, bukan diagnosis terhadap individu ataupun prevalensi ekstremisme secara nasional. 

Penelitian tersebut dilakukan Prof Gun Gun bersama tiga dosen lainnya, yaitu Rubiyanah, Abdul Azis, dan Zaenudin Amrulloh. Sebagai pembicara, Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi menilai pendekatan TREX-AI memiliki pembeda karena dibangun berdasarkan penelitian akademik dan data langsung dari pengguna media sosial.