Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara terus memperkuat ketahanan keluarga untuk merespons dinamika kependudukan dan tren pengasuhan di tengah masyarakat.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengatakan, upaya tersebut dilakukan melalui penguatan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), edukasi kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi, serta sinkronisasi program pengasuhan Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).
"Ini salah satu strategi komprehensif memperkuat ketahanan keluarga, mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta menurunkan angka stunting," ucap Surya usai menerima Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumut Mahyuzar di Kantor Gubernur Sumut, Jumat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menilai penguatan program ini juga menjadi langkah penting untuk merespons dinamika sosial di kalangan generasi Z.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Provinsi Sumut Dwi Endah Purwanti menyampaikan, salah satu tren yang berkembang di kalangan generasi Z adalah keputusan sadar untuk tidak memiliki anak atau childfree.
Menurutnya, fenomena childfree ini mulai berkembang di kalangan anak muda karena sejumlah faktor, di antaranya persoalan ekonomi, dan kesiapan mental.
Oleh karena itu, lanjutnya, Pemprov Sumut bersama BKKBN melalui program PUSPAGA dan TAMASYA berupaya merespons dinamika tersebut.
"Kedua program tersebut menyediakan layanan konseling dan konsultasi gratis bagi keluarga, khususnya dalam hal pengasuhan anak," tutur Dwi Endah.
Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Mahyuzar menyampaikan, kehadirannya bersama tim bertemu Wagub Sumut untuk menyampaikan sejumlah isu kependudukan dan keluarga yang sedang berkembang.
Pertama, lanjut dia, informasi penataan organisasi dan tata kerja (OTK) di lingkungan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN).
"Kedua, terkait fenomena yang sedang berkembang saat ini yakni gerakan childfree," ujar Mahyuzar.
Menurutnya, fenomena childfree ini berpotensi memengaruhi angka kelahiran dalam jangka panjang, dan salah satu faktor yang perlu diperhatikan menghadapi penuaan penduduk.
Ia mengatakan, sebagian anak muda yang menunda atau tidak ingin memiliki anak dipengaruhi faktor keamanan finansial, tingginya biaya hidup, serta biaya perumahan.
"Kami berupaya menggalakkan edukasi kesiapan menikah, dukungan ekonomi, mental, dan kesehatan reproduksi agar generasi muda tidak terhalang secara sistemik untuk berkeluarga," tuturnya.
Pewarta: Muhammad Said
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.