Pemprov NTT konsolidasikan satu data percepat pemulihan dampak gempa Flores

2026/09/17

Pemprov NTT konsolidasikan satu data percepat pemulihan dampak gempa Flores

Kamis, 17 September 2026 21:51 WIB

Image Print

Lokakarya verifkasi data kerusakan gempa di Flores di Kupang, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Kornelis Kaha

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan konsolidasi satu data kerusakan dan kerugian akibat gempa Flores sebagai dasar penyusunan pengkajian kebutuhan pascabencana dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).

Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) NTT Yohanes Paut di Kupang, Kamis, mengatakan akurasi data menjadi fondasi utama penyusunan R3P yang akan menjadi pedoman pemulihan tujuh kabupaten terdampak selama tiga tahun.

“Tanpa data yang akurat, R3P yang kita susun berisiko tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat terdampak,” kata Yohanes.

Berdasarkan data aplikasi Inatana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per 15 September 2026, gempa telah menyebabkan 120 orang meninggal, 1.191 orang luka-luka, 136.642 warga mengungsi, dan sedikitnya 86.018 rumah rusak.

Selain itu tercatat 573 fasilitas kesehatan, 2.240 fasilitas pendidikan, 535 rumah ibadah, dan 566 perkantoran, mengalami kerusakan. Data tersebut masih harus diverifikasi karena laporan dari berbagai wilayah terus diperbarui.

Yohanes mengatakan R3P harus berpijak pada Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) yang mencakup pengkajian akibat bencana, analisis dampak, perkiraan kebutuhan pemulihan, hingga rekomendasi awal arah kebijakan.

Dengan status tanggap darurat diperpanjang hingga 26 September 2026 persiapan pemulihan dilakukan secara paralel. Pemerintah menargetkan R3P selesai sekitar pertengahan November 2026 sesuai batas waktu 90 hari sejak penetapan status darurat.

Area Manager Siap Siaga NTT Silvia Fanggidae mengatakan data kerusakan dan kerugian harus valid, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum diterjemahkan menjadi program pemulihan.

“Ketika menyusun R3P maka mutlak harus ada data kerugian yang bisa dipertanggungjawabkan, valid, diverifikasi, serta divalidasi,” katanya.

Untuk memperkuat proses verifikasi, tim menggunakan teknologi geospasial, pemetaan udara melalui drone, dan geo-tagging dari telepon pintar. Teknologi tersebut membantu menemukan anomali, seperti koordinat fasilitas umum yang tidak tepat atau berada di luar wilayah administrasinya.

Pakar Geographic Information System (GIS) M. Hendryanto mengatakan visualisasi geospasial membantu pemerintah melihat pola kerusakan dan menentukan wilayah yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Dengan bantuan teknologi geospasial dan geo-tagging, kita bisa menganalisis secara cepat dari kantor dan melihat desa-desa mana yang memang harus menjadi prioritas intervensi,” ujarnya.

R3P Gempa Flores akan mencakup pemulihan permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan sektor lainnya dengan prinsip build back better.

Pemprov NTT menargetkan pemulihan tidak sekadar mengganti bangunan yang rusak, tetapi juga meningkatkan ketangguhan masyarakat dan wilayah menghadapi bencana berikutnya.

Tujuh kabupaten yang menjadi target pemulihan yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Data yang telah dikompilasi dan distandardisasi selanjutnya dikembalikan kepada pemerintah kabupaten dan instansi teknis untuk diverifikasi dan disepakati sebagai dasar perencanaan pemulihan.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemprov NTT konsolidasikan satu data percepat pemulihan gempa Flores

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.