Pemprov NTB menjajaki kerja sama pariwisata hingga energi dengan Maroko

2026/07/17

Mataram, NTB (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjajaki peluang kerja sama strategis di berbagai sektor mulai perdagangan, pariwisata, pengembangan sumber daya alam (SDA), peningkatan sumber daya manusia (SDM), hingga energi dengan Maroko.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, seusai menerima Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini di ruang kerjanya, Mataram, NTB, Jumat, menegaskan kerja sama internasional harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hilirisasi industri, serta penguatan daya saing ekonomi daerah.

Pertemuan ini turut dihadiri Anggota Komisi II DPR Jazuli Juwaini dan Sekretaris Daerah NTB Abul Chair.

Dalam paparannya bertema "Kepulauan dengan Potensi Tanpa Batas", Iqbal memperkenalkan NTB sebagai daerah dengan potensi investasi yang besar dan beragam.

Dengan jumlah penduduk sekitar 5,81 juta jiwa, yang didominasi usia produktif, serta didukung pertumbuhan ekonomi yang stabil dan posisi geografis strategis sebagai gerbang kawasan timur Indonesia.

Di sektor pariwisata, ia menawarkan konsep pariwisata berkualitas, yakni pembangunan destinasi yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Saat ini, NTB memiliki 265 destinasi wisata, 375 desa wisata, serta infrastruktur pendukung yang terus berkembang.

"Tren kunjungan wisatawan juga menunjukkan peningkatan, seiring dengan upaya memperluas konektivitas penerbangan internasional dan pengembangan investasi di bidang perhotelan, kawasan wisata, serta transportasi pariwisata," ujarnya.

Sektor pertanian turut menjadi salah satu kekuatan utama NTB dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB.

Berbagai komoditas unggulan seperti padi, jagung, bawang merah, cabai, kopi, kakao, kelapa, vanili, hingga tembakau menjadi peluang investasi yang menjanjikan.

Pemprov NTB, kata Iqbal, tengah menjalankan program penanaman satu juta pohon kelapa dan satu juta pohon kopi sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian berkelanjutan yang terintegrasi dengan industri pengolahan hasil pertanian.

Pemerintah membuka peluang investasi pada pengembangan pembibitan, rumah potong hewan modern, industri pengolahan daging, produk susu, hingga proyek strategis peternakan sapi potong di Labangka, Kabupaten Sumbawa.

Potensi besar juga dimiliki sektor kelautan dan perikanan. Produksi perikanan yang mencapai sekitar 1,25 juta ton pada 2025 menjadi modal penting bagi pengembangan industri pengolahan hasil perikanan, pembangunan fasilitas cold chain, serta hilirisasi berbagai komoditas ekspor unggulan seperti tuna, udang vaname, lobster, rumput laut, dan garam.

"Potensi tersebut diperkuat dengan keberadaan sedikitnya 15 bendungan besar yang dapat dikembangkan sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga surya terapung maupun sistem pembangkit listrik hibrida," terang Iqbal.

Selain itu, sumber daya mineral strategis seperti tembaga, emas, perak, mangan, pasir besi, dan timbal menjadi peluang besar bagi pengembangan industri hilirisasi berbasis energi hijau.

Sebagai bagian dari promosi investasi, Pemprov NTB juga menawarkan sejumlah proyek siap investasi, di antaranya Kerakas Beach Five-Star Hotel di Lombok Utara, Gili Gede Luxury Resort & Five-Star Hotel, Mautika Mandalika Hotel, dan Kuta Heights Hotel di kawasan Mandalika.

"Seluruh proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp1,61 triliun dan telah dipersiapkan dengan dukungan infrastruktur, kemudahan perizinan, serta prospek pasar yang menjanjikan," ucap Iqbal.

Iqbal pun berharap melalui forum tersebut, hubungan dengan Kerajaan Maroko tidak hanya berkembang dalam bentuk perdagangan dan investasi, tetapi juga mencakup penguatan kerja sama di bidang pendidikan, pengembangan teknologi, energi terbarukan, pertanian modern, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pewarta : Nur Imansyah
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026