Pemprov Kalbar jaga inflasi di tengah tekanan El Nino dan karhutla - ANTARA News Kalimantan Barat

2026/09/21

Pontianak (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) memperkuat pengendalian inflasi agar tetap berada dalam sasaran nasional maksimal 3,5 persen di tengah tekanan El Nino berkepanjangan yang berdampak pada produksi pangan dan distribusi barang.

"Kondisinya masih terkendali sesuai dengan target nasional, tapi kan kita masih ada empat bulan lagi, dikhawatirkan memang tahun ini lebih, mudah-mudahan tidak melebihi target nasional," kata Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Kalbar Harry Ronaldi di Pontianak, Senin.

Ia mengatakan target inflasi nasional berada pada 2,5 persen dengan toleransi satu persen, sedangkan inflasi Kalbar secara tahun kalender hingga Agustus 2026 tercatat 2,83 persen sehingga pengendalian dalam empat bulan terakhir menjadi penting agar tidak melampaui batas atas sasaran tersebut.

"El Nino yang berkepanjangan kuat ini menyebabkan kekeringan, sehingga banyak yang gagal panen, kemudian sudah mulai masa tanam juga tidak bisa mundur karena tidak ada sumber air," ujarnya.

Menurut Harry, tantangan pengendalian inflasi tidak hanya menyangkut ketersediaan pasokan tetapi juga kelancaran distribusi karena surutnya debit sungai membuat pengiriman barang melalui jalur air yang selama ini lebih murah harus dialihkan melalui jalur darat dengan biaya lebih tinggi.

Sementara pemerintah juga harus menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen tanpa mengurangi keuntungan produsen.

"Makanya bantuan pangan, beras SPHP, operasi pasar dan gerakan pangan murah kita lakukan untuk membantu meredam harga, dan akhir tahun ini anggaran untuk dinas terkait juga ditambah untuk membantu mengendalikan harga," katanya.

Harry menyebut beras dan minyak goreng menjadi komoditas yang perlu mendapat perhatian karena memiliki bobot besar dalam inflasi, sementara distribusi CPO dari sejumlah kabupaten sentra terkendala surutnya sungai.

Sedangkan daging ayam ras dan telur masih relatif terkendali, sementara cabai meski harganya meningkat memiliki bobot inflasi lebih kecil dan pasokannya mulai didatangkan dari Pulau Jawa hingga harga di tingkat pasar sekitar Rp110 ribu per kilogram.

Ia menambahkan kondisi cuaca juga masih menjadi perhatian karena wilayah selatan Kalbar seperti Ketapang dan Kayong Utara diperkirakan baru memasuki kondisi hujan lebih normal pada dasarian ketiga Oktober.

Sementara pemerintah provinsi masih melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memperluas dampak hujan, sehingga pengendalian pasokan, distribusi dan harga tetap diperlukan hingga akhir tahun.

Pewarta: Rendra Oxtora/Sucia Lucinda
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.