Pemkot Surakarta sosialisasikan KB dan perlindungan anak lewat wayang orang
Sabtu, 11 Juli 2026 15:25 WIB
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani sebagai salah satu pemeran pada pementasan lakon Katresnan Wurung di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026) malam. ANTARA/HO-Humas Pemkot Surakarta
Solo (ANTARA) - Pemerintah Kota Surakarta menyosialisasikan program keluarga berencana (KB) dan perlindungan anak kepada masyarakat lewat kegiatan Wayang Orang Sriwedari di Solo, Jawa Tengah, Jumat.
Melalui kolaborasi antara Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta dengan Wayang Orang Sriwedari, pesan-pesan pembangunan keluarga disampaikan melalui seni pertunjukan tradisional dalam pementasan lakon Katresnan Wurung.
Pementasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, sebagai bentuk komitmen melestarikan warisan budaya sekaligus memanfaatkan seni pertunjukan sebagai media edukasi yang dekat dengan masyarakat.
Pementasan tersebut menjadi istimewa karena melibatkan langsung Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani sebagai salah satu pemeran, bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta Kristiana, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono, serta lima camat se-Kota Surakarta, yakni Camat Banjarsari Priadi, Camat Laweyan Isnan Wihartanto, Camat Serengan Tri Widada Eka Prastiya, Camat Jebres Daryono, dan Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo.
Mereka tampil berdampingan dengan para seniman profesional Wayang Orang Sriwedari setelah sebelumnya mengikuti latihan pendalaman karakter, dialog, olah gerak, dan penghayatan cerita.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan kolaborasi tersebut merupakan inovasi Pemerintah Kota Surakarta dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan warga.
“Program Keluarga Berencana bukan hanya berbicara tentang jumlah anak, tetapi juga bagaimana membangun keluarga yang berkualitas, sehat, dan siap menghadapi masa depan. Karena itu kami memilih pendekatan budaya agar pesan-pesan tersebut lebih mudah diterima masyarakat,” ujar Astrid.
Menurut Astrid, perkembangan teknologi digital dan perubahan pola pergaulan remaja saat ini menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Pemerintah perlu terus menghadirkan edukasi dengan cara yang kreatif dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kita melihat perkembangan digital dan pergaulan remaja yang sangat cepat. Ini perlu menjadi perhatian dan antisipasi bersama, khususnya kami dari pemerintah. Melalui lakon Katresnan Wurung malam ini, kami ingin mengingatkan bahwa pergaulan remaja perlu mendapat pendampingan dari keluarga sehingga setiap anak benar-benar siap sebelum memasuki jenjang pernikahan,” katanya.
Ia menambahkan cerita dalam Katresnan Wurung menggambarkan pentingnya komunikasi dalam keluarga, tanggung jawab, serta perencanaan kehidupan sebelum menikah sehingga dapat mencegah berbagai persoalan, termasuk pernikahan usia dini.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah memastikan seluruh aspek benar-benar siap sebelum menikah, baik secara usia, mental, pendidikan, maupun ekonomi. Dengan begitu kita dapat mencegah pernikahan dini sekaligus mewujudkan keluarga yang harmonis, berkualitas, dan sejahtera,” imbuhnya.
Lakon Katresnan Wurung sendiri mengisahkan konflik di sebuah kerajaan yang melibatkan anak Petruk dan anak Gareng yang batal menikah karena salah satu di antaranya masih berusia di bawah ketentuan. Cerita tersebut menjadi media edukasi mengenai pentingnya perencanaan keluarga, perlindungan anak, pencegahan perkawinan anak, hingga penguatan peran keluarga dalam menghadapi tantangan era digital.
Selain mengangkat isu keluarga berencana, pementasan juga menyisipkan pesan mengenai perlindungan anak, pencegahan kekerasan terhadap anak, pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan media sosial oleh remaja, serta penguatan komunikasi dalam keluarga sebagai fondasi utama menciptakan generasi yang berkualitas.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kota Surakarta berharap pelestarian Wayang Orang Sriwedari sebagai warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan penyampaian pesan-pesan pembangunan. Seni pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media komunikasi publik yang efektif dalam membangun keluarga berkualitas menuju generasi Surakarta yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya saing.
Pementasan ini sekaligus menjadi bukti bahwa di usia ke-116, Gedung Wayang Orang Sriwedari terus bertransformasi sebagai ruang budaya yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas Kota Surakarta.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.