Pemkot siap dukung kongres internasional bahasa Sasak di Mataram

2026/10/16

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, siap mendukung dan menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan kegiatan kongres internasional Bahasa Sasak pertama berlangsung di Kota Mataram pada 28-30 Oktober 2026 yang dilaksanakan oleh Majelis Adat Sasak (MAS)

Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang di Mataram, Jumat, mengatakan, kegiatan itu dimaksudkan guna melestarikan dan memperkuat eksistensi bahasa daerah di Pulau Lombok.

"Bahasa Sasak harus membumi di negeri kita sendiri, dan harus dilestarikan apa yang harus jadi kewajiban. Karena itu, Kota Mataram ingin jadi terdepan untuk mengimplementasikan" katanya.

Sementara Sekretaris Jenderal Majelis Adat Sasak, Khairul Anwar dalam kesempatan yang sama mengatakan, pelaksanaan kongres internasional Bahasa Sasak pertama berlangsung di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Kegiatan itu akan melibatkan seluruh pimpinan atau kepala daerah se-Pulau Lombok serta para pemangku kepentingan terkait dengan jumlah peserta sekitar 600 orang," katanya.

Peserta yang hadir tidak hanya dari Pulau Lombok dan berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga menghadirkan para peneliti dari luar negeri, praktisi adat budaya, guru, dosen, hingga pemerhati bahasa.

Baca juga: Balai Bahasa NTB gandeng Komite Sekolah revitalisasi bahasa daerah

Baca juga: 1.000 kosakata bahasa daerah NTB diusulkan masuk ke KBBI

Khairul yang juga menjadi Ketua Panitia Kongres Internasional Bahasa Sasak Pertama mengatakan, kongres pertama itu akan memfokuskan pembahasan pada beberapa poin krusial antara lain, digitalisasi Bahasa Sasak, agar warisan bahasa lokal dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Kemudian, formula penguatan pembinaan Bahasa Sasak di setiap satuan jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Serta mendorong perguruan tinggi untuk mendirikan program studi atau jurusan khusus yang menaungi bahasa dan budaya Sasak, serta penyediaan tenaga pengajar atau guru yang kompeten di bidangnya.

"Selain itu, tujuan utama dari kongres internasional ini adalah melahirkan produk hukum daerah yang dapat menjadi payung hukum bagi muatan lokal bahasa Sasak di institusi pendidikan," katanya.

Melalui kongres tersebut, Majelis Adat Sasak berharap Gubernur NTB serta para bupati dan wali kota se-Lombok dapat menerbitkan peraturan kepala daerah berupa Perda atau Perwal guna memayungi penerapan muatan lokal bahasa Sasak secara terstruktur.

"Mengingat kewenangan pengelolaan tingkat SD dan SMP berada di bawah kabupaten/kota, sedangkan tingkat SMA berada di bawah provinsi, sinergi kebijakan antartingkatan pemerintahan dinilai sangat esensial," katanya.

​Selain menjaga kelestarian bahasa ibu di tingkat pendidikan dasar hingga menengah, Majelis Adat Sasak juga mendorong agar universitas-universitas di NTB dapat membuka Fakultas Ilmu Budaya atau program studi khusus bahasa dan budaya.

Langkah itu dinilai penting untuk melahirkan tenaga pendidik yang benar-benar paham dan berkompeten dalam mengajarkan bahasa Sasak secara berkelanjutan.
​
Dengan karakteristik Kota Mataram yang heterogen, momentum kongres tersebut diharapkan menjadi tonggak awal yang kuat untuk menjadikan Mataram sebagai pelopor penerapan budaya dan bahasa Sasak yang lestari.

"Dengan demikian, masyarakat Sasak dapat terus berbangga dengan identitas budayanya di kancah global," katanya.

Baca juga: Ketika bule AS mencintai Bahasa Sasak

Baca juga: Kota Mataram buat nama jalan dalam tiga bahasa

Pewarta: Nirkomala
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.