Ambon (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara (Malra) membuka peluang pasar baru bagi nelayan kecil melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mendorong hasil tangkapan ikan diolah menjadi bakso sebagai alternatif sumber protein.
“Skema tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pengolahan hasil perikanan,” kata Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam dalam keterangan tertulis yang diterima di Ambon, Rabu.
Upaya itu dilakukan melalui Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Protein Alternatif Program MBG yang digelar Pemkab Maluku Tenggara bekerja sama dengan The Global Environment Facility (GEF) 6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia.
Pelatihan dibuka Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.
Viali mengatakan pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah dapat menghubungkan kebutuhan pemenuhan gizi anak dengan penguatan ekonomi nelayan dan pengembangan UMKM.
“Ini terobosan baru. Selain memenuhi gizi anak, juga menambah segmentasi pasar hasil tangkapan nelayan kecil, membangkitkan UMKM pengolahan ikan, serta meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.
Menurut Viali, sektor perikanan memiliki posisi strategis dalam perekonomian Maluku Tenggara. Dalam lima tahun terakhir, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 22,20 persen terhadap perekonomian daerah.
Namun, besarnya kontribusi sektor perikanan tersebut dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan.
Berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang disampaikan Pemkab Maluku Tenggara, sebanyak 1.536 kepala keluarga (KK) nelayan atau 1.863 orang masih berada dalam kondisi miskin. Dari jumlah tersebut, 835 KK atau 1.038 orang masuk kategori miskin ekstrem.
Viali menjelaskan kondisi tersebut membutuhkan kebijakan yang tidak hanya mengandalkan bantuan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
“Kemiskinan, stunting, dan pengangguran harus kita atasi secara kolaboratif dan inovatif,” katanya menegaskan.
Menurut dia, pengolahan hasil tangkapan menjadi produk pangan dapat memberikan nilai tambah terhadap ikan yang selama ini lebih banyak dipasarkan dalam kondisi segar.
Produk olahan tersebut juga berpotensi masuk dalam rantai penyediaan pangan untuk Program MBG.
Karena itu, Pemkab Maluku Tenggara mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membangun kemitraan dengan kelompok pengolah hasil perikanan agar produk ikan lokal dapat menjadi salah satu alternatif sumber protein dalam penyediaan makanan bergizi.
Melalui skema tersebut, hasil tangkapan nelayan dapat diserap dan diolah oleh kelompok masyarakat maupun UMKM sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi dalam program MBG.
Para peserta pelatihan dibekali keterampilan mengolah ikan menjadi bakso, sekaligus pengetahuan mengenai mutu, kebersihan, keamanan pangan, dan standar produk.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Balai POM, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan, serta SPPG Kabupaten Maluku Tenggara.
Viali meminta peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, menjaga kualitas dan kebersihan. "Ingat, ini untuk anak-anak kita".
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, ia mengatakan kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan agar program pemberdayaan masyarakat tetap dapat dijalankan.
“Saat ini kita sedang efisiensi anggaran. APBD terbatas. Kita tidak bisa bekerja dengan cara lama. Kita harus kolaboratif dan menggandeng mitra. Kerja sama dengan GEF 6 CFI ini adalah langkah cerdas,” ujar dia.
Viali berharap pelatihan tersebut menjadi awal terbentuknya ekosistem usaha yang menghubungkan nelayan, kelompok pengolah, UMKM, dan SPPG.
Dengan demikian, pemanfaatan hasil perikanan lokal tidak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.
Pewarta: Winda Herman
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.