Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan untuk pencegahan penyebaran zoonosis atau penyakit menular dari hewan ke manusia, seperti flu burung, rabies, dan antraks dengan menguatkan kolaborasi lintas sektor.
Pelaksana tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih di Malang, Kamis, mengatakan, pencegahan zoonosis harus dibangun secara dini, bukan ketika kejadian kegawatdaruratan muncul.
"Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung dari respons saat wabah terjadi tetapi ketika masa tenang atau sebelum wabah muncul dengan penguatan komunikasi risiko, surveilans, dan kolaborasi lintas sektor," katanya.
Agar upaya tersebut berjalan maksimal, Dinas Kesehatan setempat berkolaborasi dengan Portal Kesehatan Masyarakat dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement menghadirkan ruang kolaborasi dengan menginisiasi Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis di Puskemas Tumpang, Kabupaten Malang.
Agenda tersebut pun melibatkan berbagai instansi di lingkungan pemerintah daerah setempat hingga organisasi masyarakat.
Langkah bersama ini juga ditujukan membangun peran serta masyarakat menghadapi ancaman zoonosis melalui kinerja promotor kesehatan.
Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) periode 2023 hingga 22 Juli 2026, di Kabupaten Malang tidak mencatat adanya kasus penularan flu burung dan antraks pada manusia.
Namun, pada tahun 2023 tercatat tiga kasus leptospirosis dan 24 kasus gigitan hewan penular rabies (GPHR), sedangkan hingga 22 Juli 2026 telah dilaporkan empat kasus leptospirosis serta 127 kasus GHPR.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang drh Lucia Endah Suksesi menyampaikan paparan penyakit dari hewan kepada manusia bisa dicegah dengan banyak cara, salah satunya meningkatkan pemahaman terhadap pola penularan.
Ia mencontohkan, rabies dapat ditularkan lewat gigitan atau cakaran hewan, seperti anjing, kucing, dan monyet, sementara risikonya dapat ditekan melalui vaksinasi pada hewan peliharaan secara rutin setiap tahun.
Tak hanya itu, ia mengimbau agar masyarakat menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak karena berisiko menularkan flu burung.
"Penyakit antraks dapat menular melalui kontak dengan ternak yang terinfeksi maupun saat menangani bangkai hewan sakit. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk tidak menyembelih ataupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak," kata dia.
Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat dr Basra Ahmad Amru menyampaikan, kolaborasi lintas sektor yang kuat di daerah merupakan landasan penting mencegah dan menangani wabah zoonosis.
"Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap," tuturnya.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.