Magetan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, Jawa Timur mengembangkan pembuatan pupuk organik cair di kalangan petani setempat guna mewujudkan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan.
Pengawas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Magetan Nur Hadi di Magetan, Selasa, mengatakan pembuatan pupuk organik cair yang dikenalkan ke para petani tersebut untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida berbahan kimia, sehingga muaranya adalah mewujudkan pertanian organik.
"Tujuan kegiatan diseminasi sekaligus pelatihan pembuatan pupuk organik cair ini adalah menginisiasi kelompok tani agar mulai menerapkan pertanian organik, minimal pertanian ramah lingkungan. Harapannya tercipta ketahanan pangan, kedaulatan pangan, sekaligus keberlanjutan sektor pertanian," ujar Nur Hadi.
Menurutnya, dalam upaya membentuk pertanian organik dan ramah lingkungan di Kabupaten Magetan, pada tahun 2026 difokuskan pada tahap sosialisasi kepada petani, sedangkan tahun 2027, akan dilanjutkan dengan pendampingan secara intensif.
"Sehingga, petani bisa lebih mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitarnya, sehingga ketergantungan terhadap bahan kimia semakin berkurang," katanya.
Adapun dalam pengenalan pupuk organik cair tersebut, para petani serta kelompok tani yang terlibat tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung membuat pupuk organik cair (POC), mikroorganisme lokal (MOL), Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi), hingga budi daya jamur Trichoderma sebagai agen hayati.
Pembuatan MOL dilakukan dengan memanfaatkan air cucian beras (air leri) yang diperkaya dengan bonggol pisang, buah mojo, serta limbah kulit atau buah nanas. Mikroorganisme lokal tersebut berfungsi membantu memperbaiki kondisi tanah yang mengalami penurunan kesuburan melalui penambahan bakteri yang bermanfaat.
Selain itu, peserta juga diajarkan membuat Jakaba yang berbahan dasar air leri dengan media dedak halus untuk memancing pertumbuhan jamur. Sementara itu, Trichoderma diperbanyak menggunakan media jagung giling kukus yang diberi isolat dari laboratorium.
"Trichoderma berfungsi sebagai agensia hayati untuk mencegah penyakit, terutama penyakit layu pada tanaman sayuran. Selain itu, juga dapat meningkatkan imunitas tanaman padi dan memperbaiki sifat biologis tanah," katanya.
Nur Hadi menambahkan bahwa setiap produk organik tersebut memiliki cara aplikasi yang berbeda. MOL dan Jakaba dapat disemprotkan langsung ke lahan maupun tanaman secara berkala, sedangkan Trichoderma digunakan untuk memfermentasi pupuk kompos maupun diaplikasikan langsung ke tanah.
Selain mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan, lanjutnya, penggunaan agensia hayati dan produk organik tersebut juga untuk perbaikan struktur tanah akibat residu bahan-bahan kimia yang digunakan.
Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.