Pemkab Kutim percepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi - ANTARA News Kalimantan Timur

2026/08/19

Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi, sehingga dari sebelumnya yang bergantung pada ekspor batu bara mentah, perlahan mengarah ke industri metanol, pertanian, perkebunan, perikanan dan industri pariwisata.

"Salah satu misi pembangunan Kutim adalah mempercepat pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi serta penguatan sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan pariwisata," ujar Wakil Bupati Kutim Mahyunadi di Sangatta, Kaltim, Rabu.

Ia mengatakan Pemkab Kutim telah menyiapkan lahan di Kecamatan Bengalon untuk proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol, bahan pembuat resin, campuran LPG, serat sintetis, cat, plastik, pelarut pembuatan obat, dan campuran parfum.

Perubahan arah kebijakan pemerintah pusat yang mengarahkan ke hilirisasi, membuat investasi daerah juga diarahkan ke hal yang sama, sehingga batu bara tidak melulu dipasarkan dalam bentuk mentah, tapi diolah menjadi produk turunan untuk mendukung transisi energi nasional.

Bagi daerah seperti Kutim yang masih bergantung pada tambang, ia mengatakan hilirisasi batu bara bukan hanya soal industri, tapi merupakan perubahan besar dalam usaha pengembangan ekonomi.

Hal itu, menurut dia, penting karena aktivitas industri turunan diperkirakan mampu menciptakan mata rantai ekonomi baru yang lebih panjang dibanding penjualan batu bara mentah, yakni selain mempercepat pertumbuhan ekonomi juga untuk mengurangi kemiskinan.

Sedangkan untuk hilirisasi pertanian dalam arti luas, komoditas pisang kepok misalnya, selain pisang segarnya sudah mampu menembus pasar ekspor, olahan keripik pisang yang diproduksi industri kecil dan menegah (IKM) setempat pun mampu menembus pasar global baik Asia maupun Eropa, lanjutnya. 

Sementara itu, ia mengatakan, untuk komoditas kakao, berkat dorongan dan pembinaan yang terus dilakukan, tidak hanya dijual dalam bentuk biji kering tapi sudah ditingkatkan menjadi kakao fermentasi yang mampu meningkatkan nilai jual dan menyerap tenaga kerja baru.

Berkat pembinaan yang dilakukan, kini Kutim pun mendapat kontrak pengiriman kakao fermentasi ke PT Rasantara Cipta Pangan Bandung, Jawa Barat, sehingga secara rutin pengiriman setiap bulan antara 25-30 ton fermentasi kakao.

Biji kakao fermentasi tersebut berasal dari Kecamatan Karangan. Hal itu, ia mengatakan membuktikan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan yang dilakukan memiliki potensi besar sebagai motor baru penggerak ekonomi kerakyatan.

"Hilirisasi harus terus dikejar agar perekonomian di Kutim tidak selalu bergantung pada komoditas mentah, baik di sektor pertambangan maupun pertanian dalam arti luas. Pariwisata pun terus digenjot karena menjadi salah satu ekonomi berkelanjutan dengan dampak sangat luas," katanya.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.