Pemkab Bantul tanam tebu di lahan 2,5 hektare untuk mendukung swasembada gula
Kamis, 27 Agustus 2026 21:33 WIB
Komisaris Utama PT Madubaru sekaligus Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Datu Dana Suyasa Keraton Yogyakarta GKR Mangkubumi (kanan) bersama Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengikuti kegiatan tanam perdana tebu di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bantul bersama Keraton Yogyakarta, PT Madubaru dan PT PG Rajawali I menggelar tanam perdana tebu di lahan seluas 2,510 hektare di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, sebagai upaya mendukung program swasembada gula pemerintah.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih di Bantul, Kamis, mengatakan kegiatan penanaman tebu tersebut menjadi bagian dari upaya mengatasi kesenjangan antara produksi dan konsumsi gula di dalam negeri.
"Data dari BPS tahun 2025, kita masih mengimpor hampir empat juta ton gula, ini menjadi tantangan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah supaya kesenjangan terus mengecil," katanya.
Menurut dia, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menawarkan berbagai insentif untuk pengembangan tanaman tebu yang nantinya menjadi bahan baku produksi gula konsumsi.
"Kami apresiasi upaya yang dilakukan PT Madubaru bersama PT Rajawali I ini," ujarnya.
Direktur PT Madubaru Budi Hidayat menargetkan luas lahan produktif tanaman tebu pada musim tanam 2026/2027 mencapai 2.400 hektare.
"Saat ini baru tercapai 2.168 ha tersebar di wilayah kerja KSO Madubaru meliputi Provinsi DIY dan Jateng," katanya.
Komisaris Utama PT Madubaru sekaligus Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Datu Dana Suyasa Keraton Yogyakarta GKR Mangkubumi mengatakan penanaman tebu tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan tanah Kasultanan agar dapat dikelola dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
"Sesuai dengan perintah dan undang-undang keistimewaan, tanah Kasultanan untuk kesejahteraan, baik untuk pertanian, ataupun untuk sektor ekonomi yang lain, yang ada di wilayah masing-masing," katanya.
Ia menyebut lahan yang saat ini ditanami tebu sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
"Di lokasi ini adalah pengembangan, dan ini kan adalah wedi kengser yang tidak digunakan oleh masyarakat," ujarnya.
Menurut dia, pengembangan areal tebu tidak berhenti di lokasi tersebut dan akan diarahkan ke wilayah lainnya dengan memanfaatkan lahan yang dinilai memungkinkan untuk ditanami tebu.
"Setelah ini Selopamioro (Bantul) tapi kita ya terus akan memfungsikan tanah-tanah yang memang bisa ditanami tebu," katanya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026