Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:52 WIB
Jakarta, VIVA – Kemampuan menghadapi ketidakpastian menjadi salah satu kualitas penting dalam kepemimpinan bisnis. Bagi dunia usaha, perubahan pasar dan berbagai situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana menuntut pemimpin memiliki cara berpikir yang tajam sekaligus kemampuan mengambil keputusan secara tepat.
Baca Juga
Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan mengatakan kemampuan membaca situasi merupakan bagian penting dari kecerdasan seorang pemimpin. Menurutnya, kondisi yang berubah tidak boleh membuat pemimpin kehilangan ketenangan dalam menentukan langkah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Menurut saya, kecerdasan yang paling penting adalah kemampuan membaca situasi, mengolah informasi, dan beradaptasi terhadap perubahan. Dalam dunia usaha maupun militer, situasi tidak selalu sesuai rencana, sehingga pemimpin harus tetap tenang dan mampu mengambil langkah yang tepat untuk mencapai tujuan," kata dia.
Baca Juga
Iwan juga menekankan pentingnya kemampuan mengubah hasil pemikiran menjadi keputusan dan tindakan. Bagi seorang pemimpin, kemampuan melihat peluang harus diikuti keberanian memperhitungkan risiko dan menentukan langkah.
"Melihat peluang saja tidak cukup. Seorang pemimpin harus mampu mengolah informasi, memperhitungkan risiko, berani mengambil keputusan dan mengubah keputusan menjadi tindakan," sambungnya.
Ketika kondisi berubah, lanjutnya, seorang pemimpin tidak harus mempertahankan cara yang sama. Hal yang perlu dijaga adalah arah dan tujuan yang hendak dicapai.
Baca Juga
"Cara boleh disesuaikan, tapi tujuan harus tetap dijaga,"tegasnya.
Gagasan mengenai kemampuan berpikir tersebut diperdalam oleh Syamsul Safin, Founder SyaREA World, melalui materi Kecerdasan Militer untuk Kepemimpinan Bisnis. Dalam penjelasannya, Syamsul menjelaskan bahwa kecerdasan berkaitan dengan kemampuan mengamati kenyataan secara teliti dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menekankan bahwa kecerdasan bukan semata-mata persoalan pendidikan formal, tetapi kekuatan dalam memahami kenyataan. Kecerdasan, menurutnya, adalah kekuatan untuk mengamati dan menghubungkan pengetahuan dengan kenyataan.
Dalam konteks pengusaha, kemampuan tersebut diperlukan agar keputusan tidak lahir hanya dari asumsi atau pengalaman masa lalu. Pengusaha perlu mengamati perubahan, memperkaya pengetahuan, menghubungkan berbagai informasi, lalu mengubah hasil pemikiran menjadi tindakan.
Materi yang disampaikan Syamsul juga membedakan medan penerapan kecerdasan militer dan kecerdasan sipil. Kecerdasan militer digunakan dalam konteks pertahanan dan keamanan, sementara kecerdasan sipil digunakan dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Namun, keduanya sama-sama menuntut kesungguhan berpikir, pembelajaran terus-menerus, dan kemampuan mencari cara lain ketika suatu cara tidak berhasil. Dalam konteks bisnis, prinsip tersebut menempatkan kemampuan berpikir sebagai bagian dari daya tahan seorang pengusaha menghadapi perubahan.
Halaman Selanjutnya
"Pengusaha perlu berpikir cemerlang untuk bangkit, tetapi pikiran itu harus diwujudkan dalam usaha nyata," ujarnya dalam pertemuan khusus Keluarga Besar SyaREA World bertema ‘Kecerdasan Militer untuk Kepemimpinan Bisnis’