Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Indonesia tengah menyelaraskan langkah untuk membangun pusat data (data center) dan AI Factory agar dapat terintegrasi dengan perencanaan energi sehingga pengembangan teknologi digital berjalan bersamaan dengan kesiapan infrastruktur pendukungnya.
"Hal-hal terkait dengan pembangunan AI Factory, termasuk data center AI Factory, itu harus dilakukan tidak lagi secara terpisah sektor per sektor, tapi, dalam sebuah koordinasi yang kuat," kata Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam Bali Tech Week (BTW) 2026 di Denpasar, Selasa.
AI Factory adalah infrastruktur komputasi dalam kapasitas besar yang menyediakan daya pemrosesan untuk mengembangkan dan mengoperasikan berbagai layanan artificial intelligence (AI/kecerdasan artifisial).
Meutya menyatakan pembangunan infrastruktur AI seharusnya tidak lagi direncanakan secara terpisah oleh masing-masing sektor. Salah satunya terkait ekosistem energi yang merupakan salah satu fondasi penting untuk keberlangsungan pengembangan AI, baik di Indonesia maupun secara global.
Koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dinilai menjadi langkah strategis. Keterhubungan kebijakan sektor digital dan energi diharapkan dapat menyelaraskan kebutuhan infrastruktur teknologi dengan ketersediaan pasokan energi yang memadai.
"Koordinasi yang kuat dengan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi menjadi penting karena di dalamnya ada ekosistem energi yang berkaitan dengan keberlangsungan pengembangan AI," kata Meutya.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia turut menekankan pentingnya sinkronisasi perencanaan pusat data dengan penyediaan energi.
"Saya akan minta data lokasi dari teman-teman yang akan membangun data center, supaya supply energinya itu bisa langsung disediakan," ujar Bahlil.
Kebutuhan tambahan daya untuk mendukung pengembangan pusat data diperkirakan mencapai 20 gigawatt atau 20.000 megawatt.
Besarnya kebutuhan tersebut menuntut perencanaan yang terkoordinasi agar pengembangan infrastruktur digital dapat berjalan seiring dengan kesiapan pasokan energi nasional.
Bahlil pun menyatakan juga akan menata investasi pusat data agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
"Kita akan membuat satu regulasi yang win-win (saling menguntungkan). Kita silakan mereka masuk, tapi, juga hargai, dan bagaimana berkolaborasi dengan pengusaha nasional, pengusaha daerah di mana investasi itu akan dilakukan," kata Bahlil.
Dia juga melihat pusat data membutuhkan teknologi dan modal besar, tetapi, penyerapan tenaga kerja langsungnya relatif terbatas. Sementara itu, operasional fasilitas tersebut membutuhkan sumber daya yang signifikan, termasuk listrik dan air. Dalam hal ini pemerintah akan memastikan masyarakat di sekitar lokasi investasi turut memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi yang tercipta.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah selaraskan perencanaan energi dan infrastruktur AI
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.