Meski penyerapannya belum semasif negara maju, produksi emas Indonesia disebut telah mencapai kisaran 100 ton per tahun
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah mendorong penguatan ekosistem emas dari hulu ke hilir sebagai upaya untuk mendukung sistem moneter Indonesia.
“Ini mulai dari produksi, traceability, pemurnian, perdagangan hingga bullion banking. Hal ini akan berkontribusi besar bagi perekonomian negara,” kata Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi dalam keterangan bersama MINDialogue di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan laporan Indonesian Mining Institute (IMI) per Agustus 2026, Indonesia diperkirakan memiliki potensi cadangan emas tambang sebesar 3.600 ton.
Namun, di balik potensi tersebut, cadangan emas moneter yang dipegang oleh Bank Indonesia (BI) baru tercatat berada di angka 87,1 ton atau sekitar 7,7 persen dari total cadangan. Dengan kepemilikan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral.
Sebagai gambaran, negara maju seperti Amerika Serikat memiliki cadangan emas mencapai 8.133,5 ton; Jerman (3.349,5 ton); Italia (2.451,8 ton); Prancis (2.437 ton); dan China (2.346,4 ton).
“Meski penyerapannya belum semasif negara maju, produksi emas Indonesia disebut telah mencapai kisaran 100 ton per tahun,” ujarnya menambahkan.
Menurut Elen, emas tidak hanya menjadi komoditas tambang, tetapi juga dapat berkembang menjadi instrumen keuangan dan aset strategis negara dan mampu mendukung sistem moneter.
Baca juga: MIND ID dukung emas jadi penguat cadangan devisa negara Bank Indonesia
“Kalau nanti ditambah lagi dengan penguatan cadangan devisa, emas BI semakin baik dan semakin besar, maka ketika ada guncangan dinamika global, guncangan ekonomi, kita punya stabilizer namanya emas selain cadangan devisa tadi,” kata Elen.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut produksi yang tercatat secara resmi belum sepenuhnya menggambarkan aktivitas emas di lapangan.
Ke depan, ia mengatakan pemerintah akan mendorong penataan aktivitas pertambangan rakyat melalui Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).
Upaya tersebut diharapkan membuat aktivitas pertambangan emas lebih tertata dan produksinya dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus mengurangi peredaran emas melalui jalur ilegal.
Sementara itu, Kemenko Perekonomian mencatat Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ekosistem emas nasional.
Sebagai gambaran, di dalam Grup MIND ID, PT Antam Tbk saat ini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) berkapasitas 150 ton per tahun. Selain itu, terdapat Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu memurnikan emas hingga 50 ton per tahun.
Sementara dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) mampu mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun.
Adapun potensi produksi bijih juga didukung oleh sejumlah perusahaan tambang lainnya, seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 2,4–2,7 ton; PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton; PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton; PT Agincourt Resources (PTAR) 5,9–6,8 ton; serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,2 ton per tahun.
Baca juga: Prabowo ungkap tim ekspedisi BRIN temukan cadangan emas baru di Papua
Baca juga: BI tegaskan tidak jual cadangan emas 11 ton pada Juli 2025
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.