Pontianak (ANTARA) - Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, yang terjadi di kawasan lahan gambut.
"Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan. Proses pemadaman cukup sulit karena lahan didominasi gambut. Kami terus berupaya agar api tidak meluas ke wilayah lain," kata Kepala Regu Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya Florensius Loren di Sungai Raya, Senin.
Dia mengatakan titik kebakaran berada di wilayah perbatasan Desa Rasau Jaya Umum dengan Desa Kuala Dua dan hingga Minggu (19/7), proses pemadaman masih terus dilakukan untuk mencegah api meluas.
Florensius mengungkapkan petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran sehingga personel harus mengangkut peralatan pemadam dalam jarak yang relatif panjang.
"Kendala di lapangan saat ini adalah sumber air yang cukup jauh sehingga menguras tenaga personel melangsir alat untuk menjangkaunya. Selain itu, jumlah selang hantar yang kami miliki masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau titik api yang berada di bagian ujung," ujarnya.
Ia menambahkan tingginya intensitas operasi pemadaman turut memengaruhi kondisi peralatan yang digunakan. Mesin pompa yang dioperasikan terus-menerus mulai mengalami penurunan performa akibat tingginya jam operasional selama penanganan kebakaran.
Florensius mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama di kawasan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau.
"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah ditangani," katanya.
Menurut dia, api di lahan gambut umumnya baru benar-benar padam setelah turun hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi tersebut juga menyebabkan asap bertahan lebih lama sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara.
Florensius berharap upaya pemadaman yang dilakukan bersama berbagai instansi, relawan, dan tim gabungan dapat segera mengendalikan kebakaran sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas warga dapat diminimalkan.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.