Jakarta (ANTARA) - Di tengah ketegangan geopolitik global menyusul perang antara Amerika Serikat dan Iran, Indonesia berkepentingan untuk menjaga ketahanan dan kestabilan domestik, ucap pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Chandra Purnama, Ph.D.
“Kita harus menjaga ketahanan domestik sebagai contoh stabilitas bagi dunia. Kita perlu melihat ke dalam karena kita juga harus betul-betul mempertahankan ketahanan domestik,” kata Chandra pada webinar Global Insight Forum (GIF) soal perang AS-Iran, Sabtu.
Salah satu upaya menjaga kondusivitas nasional di tengah ketegangan global adalah dengan menjaga stabilitas keamanan pelayaran dan logistik pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), kata dia.
Langkah tersebut dilakukan dengan tidak menjadikan jalur laut yang ada di Indonesia sebagai senjata ketegangan merembet sampai dekat tanah air. “Kita tidak ikut-ikutan, dalam konteks perang, menjadikan laut kita sebagaimana yang dilakukan Iran terhadap Selat Hormuz,” ucap akademisi itu.
Dengan menyoroti respons keras terhadap wacana pemungutan bea lintas kepada kapal dagang di Selat Malaka yang sempat dilontarkan pejabat nasional beberapa waktu lalu, Chandra mengamini bahwa hal semacam itu jangan sampai dilakukan Indonesia.
Di samping menjaga kestabilan domestik, akademisi yang juga “senior fellow” di lembaga GIS tersebut mengatakan bahwa Indonesia sepatutnya meningkatkan kontribusi dalam meredakan konflik global, khususnya perang AS-Iran.
Ia mengusulkan agar Indonesia menginisiasi suatu aliansi “middle power” yang menjadi wadah negara-negara berkembang memperjuangkan kepentingan bersama, termasuk perdamaian.
Kemudian, Indonesia dapat menginisiasi suatu sidang darurat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Gerakan Non-Blok (GNB), di mana Indonesia merupakan salah satu pendirinya.
Indonesia juga perlu mengoptimalkan diplomasi pintu belakang, yang ia sebut “katup penyelamat”, untuk membantu meredakan konflik melalui dialog dengan cara non-tradisional, kata dia.
Setelah perang sejak 28 Februari, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri permusuhan dan mempersiapkan negosiasi perdamaian lanjutan.
Tetapi, sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan tersebut sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar soroti pentingnya kestabilan nasional di tengah perang AS-Iran
Pewarta: Nabil Ihsan
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.