Ompreng harapan di kawasan perbatasan - ANTARA News Megapolitan

2026/07/22

Sebatik (ANTARA) - Motor bebek rakitan tahun 2007 itu lincah meliuk-liuk mencari jalur yang aman dilalui di lintasan jalan berbatu Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Setiap roda gear mengikuti sang tuan agar ban tetap pada lintasan dan torsi tak kalah oleh kontur jalan yang menanjak dan menurun.

Motor itu bukan hanya kendaraan biasa, ia adalah pembawa harapan yang telah dinanti puluhan anak di Madrasah Ibtidaiyah Darul Furqan. Di jok belakangnya tersusun rapi wadah-wadah makanan bergizi dalam boks yang dijaga agar tetap utuh hingga tiba di tujuan.

Setiap guncangan di jalan berbatu menjadi tantangan tersendiri. Sedikit lengah, kendaraan bisa kehilangan keseimbangan dan ompreng makanan dalam boks sudah tentu bakal berantakan.

Perjalanan menuju sekolah tapal batas itu bukan sekadar soal jarak, melainkan tentang menaklukkan medan. Jalan tanah berbatu yang membelah hamparan kebun sawit berubah menjadi kubangan saat hujan turun. Di beberapa titik, laju motor harus diperlambat hingga nyaris merayap agar muatan tetap aman.

Namun, semua kesulitan itu seolah terbayar ketika bangunan sederhana MI Darul Furqan mulai terlihat di balik rimbun pepohonan. Senyum anak-anak yang menunggu waktu makan menjadi penanda bahwa setiap kilometer perjalanan memiliki arti.

Di sekolah yang berada di wilayah tapal batas Indonesia itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar distribusi makanan, melainkan bukti bahwa pelayanan negara berusaha menjangkau hingga ke pelosok tapal batas yang paling sulit diakses.
 

MBG di Sebatik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sebatik sudah hadir sejak jelang akhir 2025. Khusus di Sebatik Tengah, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berfokus pada pemenuhan gizi bagi anak-anak buruh kelapa sawit di perbatasan negara Indonesia-Malaysia.

Profil masyarakat di wilayah Sebatik Tengah masuk dalam kategori desil 1-4 (sangat miskin sampai rentan miskin). Berbeda apabila dibandingkan dengan masyarakat yang berada di wilayah Sebatik Timur yang masuk dalam golongan menengah.

Hingga saat ini, 1.700-an anak dan balita di 13 sekolah dan 10 posyandu di tepi garis perbatasan Indonesia-Malaysia itu telah mendapatkan pelayanan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Berbeda dengan wilayah perkotaan, jalannya program di perbatasan begitu akrab dengan segala tantangan, salah satunya pemenuhan bahan baku yang terbatas.

Awalnya, para mitra dapur di Sebatik terpaksa mengandalkan bahan baku dari Malaysia, apalagi mayoritas kebutuhan pokok yang beredar di masyarakat didatangkan dari negeri seberang.

Namun lambat laun, Pemerintah daerah setempat bersama dapur mitra mengajak masyarakat agar memanfaatkan lahan kosongnya untuk berternak dan berkebun, di samping ditanami sawit.

Gayung bersambut, masyarakat akhirnya terbuka dan mulai bertanya harus memulai dari mana. Pemerintah lantas memberikan berbagai macam pelatihan, dan menariknya sejumlah lembaga filantropi zakat turut memberikan modal dan pemberdayaan.

Kini hasilnya mulai terasa, komoditas panganan lokal bukan pilihan alternatif lagi, ia justru berbalik menjadi bahan baku penopang kebutuhan primer dapur mitra.

Siswa menyantap makanan paket makan bergizi gratis (MBG) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqan, di Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu (22/7/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Selain menggerakkan sektor pertanian, Program MBG juga membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar, utamanya mereka yang sebelumnya bekerja serabutan di hutan sawit. Saat ini dapur MBG di Sebatik Tengah mempekerjakan 34 orang yang mayoritas berasal dari keluarga kategori desil 1 (sangat miskin).

Pada akhirnya, program MBG di Sebatik Tengah telah membentuk ekosistem ekonomi baru dengan melibatkan badan usaha milik desa (BUMDes), peternak, petani, hingga tenaga kerja lokal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

"Kami menggunakan bahan baku lokal seperti telur dari BUMDes, ayam dari peternak lokal, kemudian sayur dan buah dari petani sekitar. Di dalam juknis juga dijelaskan kami harus mengakomodasi hasil-hasil dari BUMDes," kata Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebatik Tengah Partiwi Hariati.
 

Syukur

Kepala Madrasah Ibtidaiyah Darul Furqan Adnan Lolo tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya karena sekolahnya menjadi bagian dari penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Madrasah Ibtidaiyah Darul Furqan atau yang dikenal sebagai Sekolah Tapal Batas ini merupakan sekolah swasta yang dulu didirikan oleh Suraidah, seorang bidan yang mengabdikan diri di garis batas negara.

Sekolah itu kini berada di bawah kewenangan Kementerian Agama. MI Darul Furqan berdiri untuk menjadi jembatan ilmu bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Lokasinya yang berada di dalam area perkebunan sawit membuatnya sangat sulit di akses. Selain jalanan berbatu dan licin ketika hujan, membuat potret keterisolasian semakin nyata terasakan.

Tak ada perkampungan komunal, hanya satu rumah yang cukup berjarak dengan rumah lainnya. Menariknya, Sekolah Tapal Batas ini memiliki asrama putra-putri dengan total siswa sebanyak 37 orang.

Para siswa tinggal di asrama dari Senin hingga Jumat bersama seorang staf pengajar yang menjadi ibu asuh mereka. Mayoritas merupakan anak-anak pekerja migran Indonesia yang bekerja di perkebunan sawit Malaysia.

Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), keluarga tak lagi risau menitipkan anaknya. Di sisi lain pihak sekolah juga mampu mengefisienkan anggaran agar proses belajar-mengajar dapat berkelanjutan.

Bagi anak-anak, MBG bukan sekadar menyediakan makan siang. Kehadiran program itu memberi ketenangan bagi guru yang setiap hari mendampingi anak-anak di kawasan yang serba terbatas.

Para guru pun turut merasakan manfaat program tersebut, karena tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tapi juga guru mencicipi makanan serupa. Sekali lagi, MI Darul Furqan adalah representasi dari potret keterisolasian.

"Dengan adanya MBG, kami sebagai guru juga menikmati. Sampai di rumah kadang sudah tidak makan lagi karena sudah kenyang makan di sekolah," kata Adnan Lolo.

Di balik perjalanan setiap kotak makanan menuju sekolah-sekolah tapal batas, tersimpan makna yang lebih besar daripada sekadar pemenuhan kebutuhan pangan. Program MBG menjadi wajah nyata kehadiran negara di kawasan yang selama ini identik dengan keterbatasan akses.

Sepiring makan siang mungkin tampak sederhana. Namun, bagi anak-anak di ujung negeri, ia membawa pesan bahwa mereka tidak berada di pinggir perhatian.

Di sana, di beranda paling utara Kalimantan, negara hadir bukan hanya melalui patok batas dan bendera Merah Putih yang berkibar, melainkan juga melalui makanan bergizi yang setiap hari tiba di meja belajar mereka.

Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.