Nilai Impor Bahan Baku Naik, Tekanan Biaya Bisnis Meningkat |Republika Online

2026/09/17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenaikan biaya impor bahan baku menambah tekanan terhadap struktur biaya bisnis yang bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat kemampuan perusahaan memantau harga pokok penjualan (HPP), biaya, dan profitabilitas secara cepat semakin penting ketika nilai tukar dan biaya perdagangan bergerak fluktuatif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor bahan baku dan barang penolong Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai 116,70 miliar dolar AS, naik 20,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perubahan biaya bahan baku dan nilai tukar dapat berdampak langsung terhadap HPP dan margin, terutama pada bisnis manufaktur dan perdagangan yang menggunakan bahan baku impor.

Chief Executive Officer (CEO) Mekari Suwandi Soh mengatakan, perusahaan tidak dapat mengendalikan pergerakan nilai tukar maupun kebijakan perdagangan global. Namun, perusahaan dapat mempercepat proses mengetahui dampaknya terhadap biaya dan margin.

“Bisnis di Indonesia tidak bisa mengendalikan pergerakan kurs atau kebijakan tarif dagang global, tetapi mereka bisa mengendalikan seberapa cepat dan akurat mereka mengetahui dampaknya terhadap HPP dan margin. Ketika biaya bahan baku dan nilai tukar bergerak naik-turun dalam hitungan bulan, bisnis yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling cepat tahu angka mereka sendiri. Itu yang coba kami sediskan lewat Mekari Jurnal: kontrol dan kejelasan finansial yang konsisten, apa pun kondisi di luar sana,” kata Suwandi, Kamis (17/9/2026).

Menurut Suwandi, analisis laporan berbasis kecerdasan buatan (AI) juga dapat mempercepat proses pengolahan data keuangan menjadi informasi yang lebih mudah dipahami. Teknologi tersebut ditempatkan untuk membantu proses analisis, bukan menggantikan keputusan yang dibuat oleh manusia.

“Jadi, AI tidak menggantikan pengambilan keputusan manusia, melainkan mempercepat proses sampai ke titik tersebut,” ujarnya.

Tekanan biaya impor juga tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang disebut berada di kisaran Rp20.400-Rp21.000 per dolar AS pada Mei-Juni 2026, sebelum bergerak ke kisaran Rp17.700-Rp17.900 per dolar AS pada Agustus-September 2026. Perubahan kurs tersebut menunjukkan risiko biaya yang perlu diperhitungkan perusahaan yang melakukan transaksi dalam mata uang asing.

Pada bisnis perdagangan sektor unggas, PT Ayam Kota Untuk Negara sebelumnya menghadapi kendala dalam melacak stok dan menghitung nilai persediaan secara manual. Setelah menggunakan Mekari Jurnal, perusahaan menyebut memperoleh akses real-time terhadap stok dan laporan keuangan serta mengintegrasikan data antar-tim.

“Laporan keuangan Mekari Jurnal menurut saya sudah bagus dan update, bisa langsung jadi. Adanya AI juga membantu untuk membaca dan menganalisis isi laporan sehingga lebih mudah dipahami. Mekari Jurnal sudah sangat relevan dengan kebutuhan kami,” ujar Nasirin, Inventory Control PT Ayam Kota Untuk Negara.

Kebutuhan pengelolaan data juga muncul pada bisnis ekspor-impor. PT Alpine Renewables Commodities, yang bergerak dalam perdagangan limbah minyak kelapa sawit atau POME, menggunakan transaksi dalam rupiah dan dolar AS sehingga pencatatan multi-mata uang menjadi salah satu kebutuhan operasional.

Pada sektor logistik, PT Gold Shine Logistik sebelumnya menggunakan sistem akuntansi offline yang memperlambat proses penyesuaian dan pelaporan keuangan. Setelah beralih ke sistem online, perusahaan menyebut proses closing bulanan menjadi lebih cepat.

Sementara itu, PT Sinar Pahala Utama menghadapi kebutuhan pemantauan keuangan yang lebih kompleks karena memiliki sembilan anak perusahaan. Perusahaan menggunakan laporan profitabilitas, laba rugi, dan neraca yang terintegrasi untuk memantau HPP dan kondisi keuangan di tingkat grup.

“Sistemnya sudah lengkap, paket komplet, dan mudah dipahami,” ungkap Abdul Khamid, Financial Controller PT Sinar Pahala Utama.

Keempat perusahaan tersebut berasal dari sektor perdagangan, ekspor-impor, logistik, dan manufaktur pangan. Perbedaan sektor menunjukkan kebutuhan yang berbeda, tetapi pengelolaan data biaya dan keuangan menjadi kebutuhan bersama ketika perusahaan menghadapi perubahan biaya bahan baku, nilai tukar, dan kondisi rantai pasok.

Chief Business Officer Mekari Jurnal Jansen Jumino mengatakan, visibilitas data secara real-time dapat membantu perusahaan menghadapi ketidakpastian bisnis.