Ngeri! 17 Ribu Hotspot Karhutla Kalimantan Terdeteksi Ada di Habitat Orang Utan

2026/09/04

Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar Kalimantan tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga mengikis ruang hidup satwa terancam punah. Sepanjang periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 17.375 titik panas (hotspot) yang mengepung wilayah habitat orang utan Kalimantan.

Angka fantastis itu menyumbang sekitar 78,5 persen dari total 22.740 titik panas yang dianalisis oleh Geopix, sebuah lembaga riset dan konservasi independen. Temuan itu menegaskan betapa kritisnya paparan api terhadap tiga subspesies orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio).

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengungkapkan keprihatinannya atas terus menyusutnya rumah bagi primata yang berstatus sangat terancam punah (critically endangered) tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat miris melihat bagaimana kita harus kehilangan begitu banyak luasan habitat orang utan di Kalimantan. Manusia mungkin masih bisa mengungsi ke tempat kerabatnya yang aman, tetapi bagaimana dengan satwa? Ini harus jadi perenungan bersama untuk meningkatkan mitigasi serta perlindungan orang utan ke depannya," ujar Annisa dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu (3/9/2026), dikutip dari CNN Indonesia.

Menggunakan analisis pemetaan ArcGIS, Earth Engine, dan RStudio, Geopix menyandingkan persebaran titik panas dengan peta distribusi resmi habitat primata tersebut. Hasilnya menunjukkan lonjakan titik api yang signifikan pada Agustus.

Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii menjadi kelompok yang paling menderita, dengan 13.085 titik panas mengepung wilayah jelajahnya, terutama di area Kalimantan Barat. Kondisi ini memperparah kerusakan hutan yang sebelumnya sudah hancur akibat alih fungsi lahan dan pembukaan hutan.

Ancaman itu membawa dampak berantai yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup orang utan, di antaranya kehilangan sumber pangan dan tempat tinggal. Ya, sebagai satwa yang hidup di atas pepohonan (arboreal), terbakarnya tajuk pohon membuat orang utan kehilangan tempat tidur, sarang, serta sumber pakan utama seperti buah dan getah.

Dampak lainnya adalah terputusnya konektivitas habutat. Kebakaran memicu fragmentasi hutan yang membuat wilayah jelajah makin sempit dan terisolasi.

Selain itu, tingginya risiko konflik dengan manusia. Kelaparan memicu orang utan keluar dari hutan menuju pemukiman warga atau perkebunan, yang meningkatkan risiko perburuan hingga pembunuhan satwa.

Asap karhutla juga menimbulkan gangguan kesehatan dan stres kritis. Paparan asap tebal dan kehilangan tempat tinggal memicu stres berkepanjangan yang merusak sistem kekebalan tubuh mereka.

Kondisi musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino serta rusaknya ekosistem gambut-yang mencapai 4,5 juta hektar di Kalimantan-membuat vegetasi kering menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Annisa memperingatkan bahwa jika pemadam karhutla dan pemulihan ekosistem tidak segera ditangani secara serius, Indonesia sedang mengarah pada ancaman kepunahan massal satwa langka itu.

"Jika kita tidak segera menghentikan rantai bencana karhutla ini, sama saja kita sedang menyaksikan pembunuhan massal orang utan secara perlahan," kata Annisa.

Ancaman bencana api itu bukan sekadar teori. Center for Orangutan Protection (COP) merasakan langsung mencekamnya karhutla di dua lokasi fasilitas rehabilitasi mereka di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang dihuni total 18 individu orang utan.

Di Kampung Tasuk, kawasan gambut dan rawa di sekitar lokasi rehabilitasi sempat terbakar selama tiga hari sebelum akhirnya berhasil dipadamkan berkat bantuan petugas pemadam dan perusahaan lokal.

Kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan terjadi di Hutan Labanan-lokasi rehabilitasi seekor orang utan bernama Ambon. Pada 24 Agustus, titik api terdeteksi hanya berjarak 1,3 kilometer dari keberadaan Ambon, dan kian memanjat mendekat hingga tersisa 550 meter pada hari berikutnya.

"Abu sisa kebakaran sempat beterbangan sampai ke area kandang Ambon, meski jumlahnya masih tersaring. Beruntung, berkat kerja sama dengan Manggala Agni dan BP2SDM, api berhasil dipadamkan. Kondisi Ambon saat ini masih sehat dan terpantau normal," kata Manajer Komunikasi COP, Wahyuni.

Sebagai langkah antisipasi jika situasi memburuk, COP telah menyiagakan skenario evakuasi darurat bagi Ambon menuju fasilitas di Kampung Tasuk, lengkap dengan penyediaan kolam air, kandang angkut, hingga tim dokter hewan.

Wahyuni mengingatkan bahwa padamnya api tidak serta-merta mengakhiri ancaman bagi orang utan. Bencana sesungguhnya justru baru dimulai usai kebakaran. Sejumlah masalah itu di antaranya perebutan sumber makanan dan potensi konflik dengan warga.

(fem/fem)