Netanyahu Tetap ke New York meski Dibayangi Penangkapan dan Ditolak Mamdani

2026/07/27

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dirinya tetap akan datang ke Kota New York untuk berpidato dalam forum diplomatik tahunan Sidang Umum PBB.

Pemimpin Israel tersebut menegaskan komitmen kedatangannya meski Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya atas dugaan kejahatan perang. Terlebih, rencana kunjungan ini juga diwarnai penolakan keras dari Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, yang secara terbuka menyatakan bahwa kehadiran Netanyahu tidak diterima di kota tersebut.

Dalam wawancara dengan program Fox News, Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo, Netanyahu mengecam Mamdani dan kembali melontarkan serangkaian klaim tanpa dasar terhadap politikus sayap kiri itu. Mamdani sebelumnya mengatakan Netanyahu harus ditangkap jika datang ke Amerika Serikat (AS).

"Saya berniat datang dan menyampaikan kebenaran—berbicara untuk Israel dan aliansi Israel-AS dari podium PBB," kata Netanyahu seperti dilaporkan Al Jazeera.

Kritik terbuka Mamdani terhadap Israel serta dukungannya terhadap hak-hak rakyat Palestina—pandangan yang kini dianut semakin banyak warga AS—telah memicu kemarahan sejumlah tokoh pro-Israel. Mereka berusaha menggambarkan kritik tersebut sebagai bentuk antisemitisme.

"Dia menghasut kebencian. Seharusnya dia menjadi wali kota bagi seluruh warga New York—Yahudi, Kristen, muslim, semuanya," kata Netanyahu, mengulangi tudingan tersebut. "Namun, dia berusaha mengadu satu kelompok dengan kelompok lain. Saya berbicara dengan warga Yahudi AS dan mereka merasa takut saat ini."

Namun, survei terhadap lebih dari 1.000 warga Yahudi dewasa di seluruh AS yang dilakukan Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research pada Juni menunjukkan gambaran berbeda.

Survei itu menemukan bahwa 44 persen responden memandang Mamdani secara "agak" atau "sangat" positif. Sementara itu, 39 persen memiliki pandangan "agak" atau "sangat" negatif terhadapnya. Sekitar dua dari 10 responden mengaku belum cukup mengenal Mamdani untuk memberikan penilaian.

Sebaliknya, hanya sekitar sepertiga responden yang memandang Netanyahu secara "agak" atau "sangat" positif. Sekitar enam dari 10 responden memiliki pandangan "agak" atau "sangat" negatif terhadapnya, termasuk 42 persen yang memandangnya "sangat" negatif. Sekitar satu dari 10 responden mengaku belum cukup mengenal Netanyahu untuk memberikan penilaian.

Untuk itu, upaya Netanyahu dan sejumlah tokoh pro-Israel untuk menggambarkan kritik terhadap Israel sebagai bentuk antisemitisme dinilai semakin tidak sejalan dengan perubahan sikap masyarakat AS. Dalam beberapa tahun terakhir, pandangan para pemilih di negara itu bergeser tajam dan semakin menjauh dari dukungan terhadap Israel.