Liputan6.com, Tel Aviv - Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (21/8/2026) menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai "diktator antisemit".
Pernyataan keras itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Turki terkait Suriah. Beberapa hari sebelumnya, Suriah menuduh Israel mengebom sebuah pangkalan udara di wilayah utara negara tersebut, tidak jauh dari perbatasan Turki. Netanyahu kemudian secara tersirat mengakui Israel berada di balik serangan itu.
Netanyahu menuding Erdogan berusaha menempatkan kekuatan militer Turki di pangkalan tersebut. Namun, Ankara membantah pernah mengirim personel atau melakukan kunjungan ke lokasi itu.
Ketegangan kedua negara semakin meningkat setelah Turki pada Jumat mengumumkan telah meminta Interpol menerbitkan Red Notice terhadap Netanyahu. Ankara menuduh Netanyahu melakukan "genosida" terkait tindakan Israel mencegat armada kapal bantuan menuju Jalur Gaza.
"Israel sudah lama memandang sikap Turki sebagai bentuk kemunafikan. Erdogan adalah diktator antisemit yang membantai warga Kurdi, mendukung pembantaian oleh organisasi teroris Hamas, dan menindas rakyatnya sendiri," demikian pernyataan kantor Netanyahu.
Israel juga menegaskan akan "terus bertindak tegas terhadap upaya Turki mengganggu stabilitas kawasan dan terhadap setiap ancaman terhadap keamanannya".
Polemik mengenai keberadaan militer Turki di Suriah bermula setelah Suriah pada Selasa (18/8) menuduh Israel menyerang sebuah pangkalan udara yang sudah tidak digunakan di dekat Kota Aleppo, wilayah barat laut negara itu. Pangkalan tersebut rusak selama perang saudara dan tidak lagi beroperasi sejak 2012.
Israel mengatakan delegasi militer Turki baru-baru ini mengunjungi lokasi tersebut. Sebuah lembaga pemantau konflik Suriah juga menyebut kunjungan itu berkaitan dengan upaya mengaktifkan kembali pangkalan tersebut.
Turki pada Kamis (20/8) membantah memiliki pasukan atau kehadiran militer di pangkalan itu. Ankara menegaskan akan tetap mendukung kedaulatan Suriah.
Dalam pernyataan berbahasa Inggris pada Jumat, kantor Netanyahu kembali menuding Erdogan berusaha memperluas agresinya terhadap Israel hingga ke Suriah.
"Israel tidak akan menoleransinya," demikian pernyataan tersebut.