Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 September 2026 21:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap satu negara dapat menyeret sejumlah negara lain ke dalam konflik. Hal ini terjadi karena banyak negara terikat dalam perjanjian pertahanan bersama.
Melalui perjanjian tersebut, serangan terhadap satu anggota dapat dipandang sebagai serangan terhadap seluruh kelompok. Negara-negara sekutu pun dapat diminta memberikan bantuan, termasuk dukungan militer.
Melansir Visual Capitalist, terdapat lima aliansi pertahanan multilateral utama yang masih berlaku pada 2026. Kelimanya adalah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Pakta Rio, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), dan Aliansi Pertahanan Mekah.
Pemetaan tersebut hanya memasukkan perjanjian resmi yang memiliki komitmen pertahanan bersama. Kerja sama militer yang sebatas mencakup latihan, perdagangan senjata, teknologi, atau pertukaran informasi tidak ikut dihitung.
NATO Menjadi Aliansi Terbesar
Dari lima aliansi yang dipetakan, NATO memiliki jumlah anggota paling banyak. Organisasi ini beranggotakan 32 negara yang tersebar di Eropa dan Amerika Utara.
NATO berdiri pada 1949 dengan 12 negara pendiri. Jumlah anggotanya terus bertambah seiring perubahan peta keamanan Eropa, terutama setelah berakhirnya Perang Dingin.
Perluasan terbaru terjadi ketika Finlandia resmi bergabung pada 2023, disusul Swedia pada 2024. Masuknya dua negara tersebut memperpanjang wilayah NATO di kawasan Eropa Utara dan sekitar Laut Baltik.
Amerika Serikat menjadi salah satu kekuatan utama di dalam NATO. Namun, AS juga terikat dengan aliansi pertahanan lain, yakni Pakta Rio. Posisi tersebut membuat AS menjadi salah satu dari tiga negara dalam pemetaan ini yang berada di bawah perlindungan dua aliansi sekaligus.
Dua negara lainnya adalah Turki dan Arab Saudi. Turki merupakan anggota NATO sekaligus Aliansi Pertahanan Mekah, sedangkan Arab Saudi tergabung dalam GCC dan Aliansi Pertahanan Mekah.
Pakta Rio Lebih Tua dari NATO
Meski NATO menjadi aliansi terbesar, organisasi tersebut bukan yang paling tua dalam daftar.
Posisi itu ditempati Inter-American Treaty of Reciprocal Assistance, yang lebih dikenal sebagai Pakta Rio. Perjanjian ini ditandatangani di Rio de Janeiro pada 1947, dua tahun sebelum NATO dibentuk.
Pakta Rio dirancang sebagai kerangka pertahanan bersama negara-negara di kawasan Amerika. Prinsipnya hampir serupa dengan NATO, yakni serangan terhadap satu negara peserta dapat dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Keanggotaan Pakta Rio telah banyak berubah. Sejumlah negara memilih keluar, sedangkan negara lainnya tetap mempertahankan keikutsertaan meski kerja sama tersebut tidak selalu aktif digunakan.
Amerika Serikat masih menjadi bagian dari Pakta Rio. Pada saat yang sama, Washington juga menjadi anggota NATO. Hal tersebut menghubungkan sistem keamanan di Benua Amerika dengan aliansi pertahanan yang berpusat di kawasan Atlantik Utara.
Enam Negara Teluk Saling Menjaga
Di kawasan Teluk, kerja sama pertahanan dijalankan melalui Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC.
Organisasi yang dibentuk pada 1981 ini beranggotakan enam negara, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar. Keenamnya memiliki kedekatan geografis, hubungan ekonomi yang kuat, serta menghadapi berbagai ancaman keamanan yang hampir serupa.
GCC tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi dan politik. Organisasi ini juga mempunyai perjanjian pertahanan bersama yang menegaskan bahwa keamanan negara-negara Teluk tidak dapat dipisahkan.
Dengan ketentuan tersebut, serangan terhadap salah satu anggota dipandang sebagai serangan langsung terhadap seluruh negara GCC. Kerja sama mereka mencakup koordinasi militer, sistem pertahanan udara, serta pengembangan kemampuan pertahanan bersama.
Arab Saudi kemudian memperluas jaringan keamanannya melalui perjanjian baru dengan Turki dan Pakistan. Langkah tersebut membuat Riyadh menjadi penghubung antara kerja sama pertahanan Teluk dengan aliansi baru yang jangkauannya lebih luas.
Aliansi Baru Lahir di Mekah
Perubahan terbesar dalam peta aliansi militer dunia terjadi pada Agustus 2026.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Mecca Joint Defence Agreement atau Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah.
Perjanjian itu menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya.
Aliansi tersebut mempertemukan tiga negara dengan kekuatan yang berbeda. Turki merupakan anggota NATO dan memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di dalam organisasi tersebut. Arab Saudi mempunyai kekuatan ekonomi besar sekaligus menjadi anggota utama GCC.
Sementara itu, Pakistan merupakan negara bersenjata nuklir yang tidak tergabung dalam NATO maupun GCC.
Kehadiran Pakistan membuat aliansi ini semakin menarik perhatian. Negara tersebut menjadi satu-satunya anggota yang sebelumnya tidak terhubung dengan dua blok pertahanan lain.
Meski begitu, belum dijelaskan secara terperinci bantuan seperti apa yang wajib diberikan apabila salah satu anggota diserang. Belum jelas pula sejauh mana perjanjian tersebut dapat mengikat ketiga negara untuk terlibat dalam tindakan militer.
CSTO Justru Kehilangan Anggota Aktif
Ketika Aliansi Mekah memperluas jaringan pertahanan bersama, CSTO bergerak ke arah sebaliknya.
Aliansi yang dipimpin Rusia tersebut kini memiliki lima anggota aktif, yakni Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Negara-negara tersebut sebagian besar merupakan bekas republik Uni Soviet.
Secara resmi, Armenia masih tercatat sebagai anggota CSTO. Namun, pemerintah Armenia membekukan partisipasinya pada 2024 setelah hubungannya dengan organisasi tersebut memburuk.
Armenia tidak lagi mengikuti berbagai kegiatan CSTO, tetapi juga belum menyampaikan pengunduran diri secara resmi. Negara itu akhirnya berada dalam posisi yang tidak biasa, masih terikat secara hukum, tetapi tidak lagi aktif dalam organisasi.
Kondisi tersebut membuat jangkauan aktif CSTO lebih kecil dibandingkan sebagian besar perjalanan sejarahnya. Situasi Armenia juga memperlihatkan bahwa keanggotaan formal belum tentu berjalan seiring dengan kerja sama nyata di lapangan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)