REPUBLIKA.CO.ID,
Disusun oleh Kantor Ilmiah Persatuan Ulama Muslimin di Lebanon
Pembuka Khutbah
Allah Ta'ala berfirman:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَءِيلَ فِي الْكِتَب لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلْلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا ، ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الكرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْتُكُم بِأَمَولِ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا ٦ إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أسأتُم فلها فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُنُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا المسجد كما دخلوه أول مَرَّةٍ وَلِيُتَبَرُوا مَا عَلَوْا تَتَّبِيرًا
“Dan telah Kami tetapkan bagi Bani Israil dalam Kitab (Taurat): kalian pasti akan berbuat kerusakan di muka bumi dua kali, dan pasti kalian akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. [4] Maka apabila datang saat pembalasan atas kerusakan yang pertama dari keduanya, Kami utus kepada kalian hamba-hamba Kami yang memiliki kekuatan luar biasa; mereka merajalela menelusuri kampung-kampung, dan itu adalah janji yang pasti terlaksana. [5] Kemudian Kami berikan kepada kalian giliran untuk mengalahkan mereka kembali, Kami membantu kalian dengan harta dan anak-anak, dan Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar. [6] Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri; dan jika kalian berbuat jahat, maka (akibatnya) pun untuk diri kalian sendiri. Maka apabila datang saat pembalasan atas kerusakan yang kedua, (Kami datangkan musuh-musuh kalian) untuk menyuramkan wajah-wajah kalian, lalu mereka memasuki masjid (Al-Aqsa) sebagaimana mereka memasukinya pertama kali, dan untuk menghancurkan sehancur-hancurnya apa saja yang mereka kuasai. [7]” Q.S. Al-Isra’ [17]: 4–7
1. Al-Aqsa di Bawah Cengkeraman Penyerbuan
Israel terus melanggar kesucian Masjid Al-Aqsa. Gerombolan pemukimnya tak henti-hentinya menyerbu pelataran masjid. Menurut data Kegubernuran Al-Quds, jumlah penyerbu Al-Aqsa mencapai 40.661 orang sejak awal 2026 hingga akhir Agustus. Memasuki September, gelombang penyerbuan bertambah: 1.678 orang hanya dalam dua hari, 20 dan 21 September, ditambah penyerbuan lain selama perayaan Sukkot (Hari Raya Pondok Daun). Pada 23 Juli saja, kegubernuran itu mencatat 4.248 penyerbu, termasuk Itamar Ben-Gvir dan sejumlah anggota Knesset.
Di Yerusalem Timur, PBB mencatat pembongkaran rumah, pengusiran, dan perluasan permukiman. Hingga awal Agustus, sekitar 170 bangunan milik warga Palestina telah dihancurkan di Yerusalem Timur sepanjang 2026, dan sekitar 200 keluarga menghadapi perkara pengusiran. PBB juga memperingatkan dampak proyek El terhadap keterhubungan wilayah dan komposisi penduduk Palestina di sekitar Al-Quds.
2. Al-Aqsa dalam Lintasan Sejarah
Masjid Al-Aqsa termasuk tempat ibadah tertua di muka bumi setelah Masjidil Haram. Ia terikat erat dengan sejarah para nabi sejak masa yang sangat jauh, dan tanah Baitul Maqdis menjadi tempat tinggal banyak di antara mereka. Lalu Islam datang dan meneguhkan kedudukannya: Al-Aqsa menjadi kiblat pertama kaum muslimin, ke sanalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diperjalankan pada malam Isra Mi'raj, dan di pelatarannya beliau mengimami para nabi
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, Al-Quds dibebaskan sekitar tahun 15 H/636 M. Kaum muslimin memasuki kota itu, penduduknya diberi jaminan keamanan, dan Al-Aqsa berada di bawah pemeliharaan Islam. Pada masa Dinasti Umayyah, kompleks ini mengalami perluasan dan pembangunan besar-besaran: Kubah Shakhrah dibangun di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan pembangunan Masjid Al-Qibli rampung di masa Al-Walid bin Abdul Malik.
Pada 1099 M, Al-Quds jatuh ke tangan pasukan Salib, dan Al-Aqsa mengalami berbagai perubahan serta alih fungsi. Salahuddin Al-Ayyubi kemudian membebaskannya pada 1187 M setelah Perang Hattin dan mengembalikan kedudukan Islamnya.
Sesudah itu, Al-Quds tetap berada di bawah pemerintahan negara-negara Islam yang silih berganti, di antaranya Dinasti Ayyubiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah, yang memerintah kota ini sekitar empat abad hingga Perang Dunia I. Setelah itu, Al-Quds berada di bawah Mandat Inggris.
Dalam perang 1948, Yerusalem Timur, termasuk Masjid Al-Aqsa, berada di bawah administrasi Yordania. Israel kemudian menduduki Yerusalem Timur dalam perang 1967.
Dalam beberapa dekade terakhir, penyerbuan kelompok-kelompok Yahudi nasionalis dan religius ke kompleks ini kian sering terjadi, disertai upaya menjalankan ritual keagamaan di dalamnya. Semua itu berjalan seiring dengan pergulatan yang lebih luas atas Yerusalem Timur: soal jati diri kota dan tempat-tempat sucinya.