Nama Said Aqil Siroj Menguat di Bursa Rais Aam PBNU

2026/08/29

AKURAT.CO Nama KH Said Aqil Siroj semakin menguat dalam bursa calon Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.

Selain Said Aqil, sejumlah nama lain juga diperbincangkan sebagai kandidat Rais Aam, di antaranya KH Miftachul Akhyar dan KH Ma’ruf Amin.

Menguatnya nama Said Aqil salah satunya disampaikan tokoh senior NU KH Adnan Anwar dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk “Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU” di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Adnan menilai Said Aqil memiliki pengalaman panjang dalam memimpin NU. Ia menyebut mantan Ketua Umum PBNU dua periode tersebut sebagai figur yang mampu melakukan konsolidasi dan menyelesaikan berbagai persoalan organisasi.

Baca Juga: Rais Aam PBNU Ajak Ribuan Nahdliyin Perbanyak Istigfar Jelang Muktamar NU ke-35

“Saya mengikuti kabinetnya Pak Said. Saya juga lama berinteraksi dengan beliau. Setahu saya, dalam dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said itu relatif aman. Nggak ada masalah,” ujar Adnan.

Menurut dia, berbagai persoalan yang muncul selama kepemimpinan Said Aqil dapat diselesaikan tanpa berkembang menjadi konflik yang mengancam keutuhan organisasi.

“Artinya Pak Said itu figur yang konsolidator. Sosok yang pengalaman, kemudian beliau juga berinteraksi dengan masalah geopolitik. Itu sangat penting,” katanya.

Adnan juga menyoroti karakter Said Aqil yang dinilai kerap turun langsung dalam menyelesaikan persoalan. Salah satu yang disebut adalah polemik nasab Ba’alawi yang sempat menjadi perhatian di kalangan warga NU.

Sementara itu, terkait kandidat lain, Adnan menilai KH Ma’ruf Amin memiliki pengalaman yang kuat. Adapun terhadap KH Miftachul Akhyar, ia menyoroti dinamika kepemimpinannya yang sempat diwarnai konflik dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Menurut Adnan, konflik berupa pemecatan dalam struktur organisasi NU berpotensi menimbulkan persoalan lebih luas karena dapat memunculkan kesan bahwa organisasi bergantung pada keputusan personal.

“Kalau memecat, bahayanya kan personifikasi individu. Seolah-olah NU itu menjadi urusan individu. Itu implikasi bahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah,” tegasnya.

Baca Juga: Dua Opsi Pemilihan Ketum PBNU Menguat di Muktamar ke-35 NU

Ia mengatakan konflik internal NU pada masa lalu umumnya dapat diselesaikan melalui rekonsiliasi. Karena itu, menurut Adnan, kepemimpinan yang mampu menjaga konsolidasi dan mencegah perpecahan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan Rais Aam.

Bursa calon Rais Aam menjadi salah satu agenda penting menjelang Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Nama-nama yang muncul selanjutnya akan melalui mekanisme organisasi sesuai tata tertib yang ditetapkan muktamirin.