Jakarta, CNBC Indonesia - Investor terkenal dunia Michael Burry kembali menyoroti fenomena pasar yang mengingatkannya pada gelembung masa lalu. Kali ini ia menanggapi pernyataan Nvidia yang menyebutkan chip AI buatannya tetap bernilai tinggi dalam jangka panjang. Burry mengingatkan bahwa pola antusiasme yang berlebihan ini pernah terjadi sebelumnya dan berakhir dengan penurunan tajam, dikutip dari tulisannya di akun Substack-nya, Jumat (2/10/2026).
Michael Burry adalah pendiri firma investasi Scion Asset Management. Ia dikenal luas sebagai salah satu dari investor yang memprediksi secara akurat krisis keuangan global tahun 2008. Burry melihat ketidakseimbangan di pasar properti Amerika Serikat jauh sebelum krisis melanda, dan berani mengambil posisi short terhadap sekuritas yang didasarkan pada pinjaman perumahan (subprime mortgage).
Langkah itu menghasilkan keuntungan miliaran dolar bagi investornya dan dirangkum dalam buku serta film The Big Short. Sejak itu, pandangannya selalu menjadi sorotan pasar karena kemampuannya melihat risiko yang sering diabaikan pelaku pasar lain.
Pada akhir September 2026, Nvidia mempresentasikan grafik yang menunjukkan bahwa chip andalan seperti A100, H100, dan B200 mempertahankan nilainya jauh lebih baik dibandingkan jadwal penyusutan yang biasa dipakai dalam akuntansi. Pesan Nvidia jelas yaitu perusahaan-perusahaan yang membeli chip tersebut tidak perlu mencatat penurunan nilai yang cepat, karena perangkat itu tetap bernilai tinggi dan berguna.
Pilihan Redaksi
- Kaya Raya dari AI, Manusia Rp 3.500 Triliun Kini Mau 'Tangkap' AI
- Data Center AI Menjamur, Listrik-Air Mahal, Orang Kaya Borong Pesawat
- Fitur Baru, Orang Tua Bisa Monitor Akun WhatsApp di HP Anak
Burry justru mengingatkan agar tidak terlalu percaya pada gambaran itu. Ia mengutip kisah dari buku keuangan klasik The Money Game yang ditulis tahun 1968. Saat itu, para pemain di pasar saham meyakini bahwa permintaan komputer akan tumbuh tanpa henti, dan perusahaan penyewaan mesin akan terus melipatgandakan laba setiap tahun.
Pandangan itu didukung narasi tentang teknologi baru yang mengubah dunia, sehingga nilai aset dianggap tidak akan turun. Kenyataannya padahal pasar tersebut akhirnya runtuh dan banyak perusahaan yang diandalkan itu lenyap.
"Kebutuhan akan komputer dikatakan hampir tak terbatas. Penyewaan dianggap satu-satunya cara menjualnya, karena perusahaan sendiri tidak punya modal. Laba diproyeksikan naik dua kali lipat setiap tahun, dan permukaannya baru tergores," tulis Burry mengutip narasi lama yang kini terdengar serupa.
Menurutnya, kalimat-kalimat itu bisa saja diucapkan hari ini mengenai chip kecerdasan buatan. Narasi tentang permintaan yang tak terbatas, pertumbuhan yang berlipat ganda, serta teknologi yang mengubah segalanya persis sama dengan apa yang didengar orang pada tahun 1960-an.
Peringatan Burry mengarah pada satu hal penting amortisasi nilai perangkat keras tidak bisa dihindari hanya karena teknologi sedang populer. Secepat apa AI berkembang, secepat itulah chip yang ada saat ini dapat tertinggal. Jika perusahaan dan investor menilai aset itu terlalu tinggi, keseimbangan keuangan bisa terganggu ketika kenyataan menunjukkan nilai yang sebenarnya.
Perbandingan yang ia buat bukan berarti teknologi AI tidak akan berkembang. Ia hanya mengingatkan bahwa antusiasme pasar kerap melampaui kenyataan dan pola yang sama berulang dari generasi ke generasi. Apa yang terdengar seperti masa depan tanpa akhir seringkali ternyata hanya satu babak dalam sejarah yang lebih panjang.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]