Lombok Barat (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berlangsung mundur dan lebih pendek hanya sekitar tiga hingga empat bulan.
"Musim hujan normal berlangsung selama enam hingga tujuh bulan. Sedangkan musim hujan kali ini di NTB lebih pendek dengan durasi dominan sekitar 10-12 dasarian atau kurang lebih tiga sampai empat bulan," kata Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo dalam konferensi pers di Lombok Barat, Rabu.
Fenomena musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya akibat pengaruh El Nino sangat kuat, sirkulasi monsun, dan suhu permukaan laut di sekitar wilayah perairan NTB mempengaruhi kedatangan dan durasi musim hujan.
Pada Agustus 2026, kondisi suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator berada dalam kondisi El Nino sangat kuat dengan indeks +2,83 derajat Celcius.
Adapun angin baratan atau Monsun Asia diprediksi mulai aktif pada November 2026. Saat ini sirkulasi angin timuran atau Monsun Australia pada lapisan 850mb masih mendominasi wilayah Indonesia.
Sedangkan anomali suhu permukaan laut perairan Indonesia pada Oktober 2026 hingga Maret 2026 diprediksi akan didominasi oleh kondisi normal hingga hangat yang berkisar antara minus 0,5 sampai 1 derajat Celcius.
BMKG memprediksi musim hujan mulai memasuki wilayah Nusa Tenggara Barat pada Desember 2026. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Maret 2027 dengan cakupan mencapai 14.168 kilometer persegi atau setara 78 persen wilayah NTB.
Ia menegaskan perencanaan pengelolaan air dan kegiatan pertanian menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi musim hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sejak dini dalam menghadapi musim hujan yang diprediksi tiba sekitar dua bulan lagi.
Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Kerja Sama Penanggulangan Bencana BPBD NTB Awan Darmawan menyampaikan puncak musim hujan rentan menimbulkan banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat, serta wilayah Sumbawa dan Bima.
Ia menyarankan setiap rumah, terutama di wilayah Lombok bagian selatan untuk membuat sumur resapan sedalam tiga meter dengan diameter satu meter agar bisa menampung limpasan air hujan.
Sumur resapan tersebut sangat membantu menyimpan cadangan air sekaligus mengurangi risiko banjir.
"Inilah yang kami sebut panen air hujan, menyimpan air saat melimpah untuk digunakan saat kemarau kembali," ujar Awan.
Lebih lanjut dia mengarahkan pemerintah desa agar memanfaatkan sisa anggaran dana desa untuk langkah mitigasi struktural, antara lain pembuatan bronjong, perbaikan saluran pembuangan, dan pengerukan bantaran sungai agar mampu menampung debit air yang melonjak.
Usulan pokok pikiran anggota legislatif, imbuh Awan, juga diarahkan untuk mendukung upaya penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Barat.
"Penanganan tidak bisa hanya mengandalkan BPBD. Seluruh elemen masyarakat harus bergerak bersama sejak sekarang agar tidak terlambat menghadapi cuaca ekstrem," pungkas Awan.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Siti Ulfa
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026