Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan perawatan naskah kuno atau manuskrip secara teliti lembar demi lembar untuk menjaga kondisi koleksi bersejarah tersebut agar tetap terpelihara dengan baik.
Pamong Budaya Madya Museum NTB Gusti Ayu Sri Astiti di Mataram, Jumat, mengatakan perawatan naskah kuno berbahan lontar membutuhkan waktu lebih lama karena setiap lembar harus dibersihkan secara teliti.
"Senjata dan lontar paling membutuhkan waktu karena mesti satu-satu kami rawat berdasarkan jenis bahan," ujarnya.
Ayu menjelaskan proses perawatan naskah kuno berbahan lontar diawali dengan membersihkan setiap lembar menggunakan kuas secara hati-hati.
Setelah dibersihkan, naskah kemudian diberi alkohol kadar 70 persen dan bahan perawatan tertentu sebelum dikeringkan untuk memastikan kondisinya tetap terjaga.
Museum NTB menyimpan sekitar 1.270 naskah kuno berbahan lontar. Keseluruhan manuskrip yang dimiliki tersebut, termasuk yang berbahan kertas Eropa, daluwang, dan bahan lainnya, mencapai sekitar 1.300 koleksi.
Kasi Pengkajian dan Perawatan Museum NTB Aulia Rahman Adiputra mengatakan perawatan koleksi manuskrip dilakukan sepanjang tahun melalui pemeriksaan rutin terhadap benda yang tersimpan di gudang maupun ruang pameran.
Baca juga: Dari Australia untuk kebudayaan dan kemajuan NTB
"Setiap hari kami lakukan preventif, artinya kami melihat, mengecek koleksi. Kalau dianggap memang perlu tindakan, ada kuratif atau restorasi," kata Adi.
Lebih lanjut dia menyampaikan tindakan perawatan disesuaikan dengan kondisi dan jenis bahan koleksi, karena setiap material memiliki karakteristik serta tingkat kerusakan yang berbeda.
Pemeriksaan dilakukan secara terjadwal di ruang pameran tetap, gudang koleksi, gudang di lantai atas, serta area museum untuk menentukan koleksi yang membutuhkan perawatan preventif maupun tindakan kuratif di laboratorium.
Selain melakukan perawatan terhadap koleksi museum, kata Adi, Museum NTB juga memberikan edukasi kepada masyarakat melalui Program Sosialisasi Perawatan Koleksi yang dilaksanakan setiap tahun secara bergilir di Pulau Lombok dan Sumbawa.
"Upaya itu dilakukan agar mereka memperoleh pemahaman dalam merawat manuskrip, lontar, keris, bahan kuningan, dan benda bersejarah lainnya yang menjadi koleksi masyarakat," ucapnya.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Khansa Fadiyah Asnawi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026