Oleh Dr. Lucky Akbar
Jambi (ANTARA) -
Setiap kali bulan Agustus tiba, rakyat Indonesia kembali menemukan suasana khasnya. Bendera Merah Putih menghiasi jalan dan halaman rumah, berbagai perlombaan digelar, lagu-lagu perjuangan terdengar di ruang publik, dan narasi tentang perayaan hari ulang tahun kemerdekaan memenuhi berbagai platfom untuk merayakan hari bersejarah, titik awal kehidupan negara yang berdaulat.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, peringatan kemerdekaan sesungguhnya menyimpan ruang refleksi yang jauh lebih penting. Usia 81 tahun di tahun 2026 bagi bangsa Indonesia bukan sekadar angka yang menandai panjangnya perjalanan Republik ini, melainkan kesempatan untuk menengok kembali sejauh mana kemerdekaan telah diterjemahkan menjadi pembangunan, kesejahteraan, dan kesempatan bagi seluruh rakyat.
Dari sebuah negara yang baru lahir dengan segala keterbatasannya pada 1945, Indonesia hari ini telah tumbuh menjadi negara dengan kapasitas ekonomi, kelembagaan, dan sumber daya manusia yang jauh lebih besar. Karena itu, perayaan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk membaca kembali denyut perjalanan bangsa secara jernih.
Namun lebih jauh, untuk menilai posisi Indonesia hari ini, menentukan arah pembangunan ke depan, dan memastikan bahwa setiap langkah pembangunan semakin mendekatkan bangsa pada cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, dan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat.
Pembangunan Ekonomi
Indonesia merdeka pada tahun 1945 dalam situasi yang jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Negara yang baru lahir tersebut menghadapi keterbatasan infrastruktur, pendidikan, kapasitas pemerintahan, dan sumber daya ekonomi. Tantangan mempertahankan kemerdekaan bahkan berlangsung bersamaan dengan pekerjaan membangun institusi negara.
Delapan puluh satu tahun kemudian, struktur ekonomi Indonesia telah berubah secara fundamental. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, perekonomian Indonesia pada tahun 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, dengan PDB per kapita sebesar Rp83,7 juta atau sekitar US$5.083. Ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen.
Angka tersebut bukan sekadar statistik makro ekonomi. Ia menggambarkan skala transformasi sebuah negara yang dalam delapan dekade telah membangun basis ekonomi yang jauh lebih besar dan kompleks. Indonesia saat ini memiliki sektor manufaktur, jasa, keuangan, perdagangan digital, ekonomi kreatif, industri pengolahan, hingga ekosistem teknologi yang tidak pernah terbayangkan ketika republik ini baru berdiri.
Selanjutnya Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, atau 101,3 persen dari target Presiden sebesar Rp1.905,6 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja. Investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi 2025. Investasi tersebut tidak hanya berasal dari sektor mineral, tetapi juga perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas, serta perikanan dan kelautan.
Cerita positif berikutnya datang dari kinerja perdagangan internasional. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$282,91 miliar, meningkat 6,15 persen dibandingkan 2024. Ekspor nonmigas bahkan meningkat 7,66 persen menjadi US$269,84 miliar. Pada saat yang sama, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$41,05 miliar sepanjang 2025. Surplus tersebut terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencapai US$60,75 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit US$19,70 miliar.
Kinerja perdagangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis produksi yang mampu terhubung dengan pasar global. Tantangannya sekarang adalah meningkatkan kualitas ekspor. Indonesia perlu terus mengembangkan produk manufaktur, memperluas diversifikasi pasar, memperkuat industri berteknologi tinggi, dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor komoditas..
Manusia yang Berkualitas
Namun, ukuran kemajuan bangsa tidak boleh berhenti pada pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya, pembangunan harus kembali kepada manusia. Salah satu indikatornya adalah kemiskinan. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2025 turun menjadi 8,47 persen, dibandingkan 9,03 persen pada Maret 2024. Jumlah penduduk miskin juga turun menjadi 23,85 juta orang, berkurang 1,37 juta orang dibandingkan Maret 2024.
Penurunan tersebut patut diapresiasi, meskipun belum menjadi alasan untuk berpuas diri. Masih terdapat jutaan masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk keluar dari kerentanan ekonomi. Kemiskinan perdesaan juga masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Artinya, agenda pemerataan tetap menjadi pekerjaan besar dalam perjalanan menuju Indonesia Emas.
Hal yang sama berlaku dalam pembangunan manusia. Kemajuan ekonomi hanya akan benar-benar bermakna apabila diterjemahkan menjadi kualitas hidup yang semakin baik. Data BPS menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2025 mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 pada 2024. Perbaikan terjadi pada seluruh dimensinya: umur harapan hidup meningkat menjadi 74,47 tahun, harapan lama sekolah mencapai 13,30 tahun, rata-rata lama sekolah menjadi 9,07 tahun, sementara pengeluaran riil per kapita meningkat menjadi Rp12,80 juta per tahun.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlahan mulai berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas manusia, meskipun kesenjangan akses dan kualitas pendidikan, kesehatan, serta kesempatan ekonomi masih perlu terus diperbaiki.Temuan tersebut sejalan dengan Human Capital Index Bank Dunia (2020) yang menunjukkan skor modal manusia Indonesia meningkat dari 0,50 pada tahun 2010 menjadi 0,54 pada tahun 2020, yang antara lain didorong oleh perbaikan kesehatan dan penurunan stunting.
Indonesia Emas 2045
Peringatan HUT ke-81 memiliki arti strategis karena Indonesia hanya memiliki waktu 19 tahun menuju 2045, ketika Republik Indonesia genap berusia satu abad. Indonesia Emas 2045 tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia berkualitas, produktivitas tinggi, transformasi industri, pemerataan pembangunan, inovasi teknologi, tata kelola pemerintahan yang efektif, serta institusi hukum yang kuat.
Data ekonomi hari ini merupakan fondasi, bukan tujuan akhir. Sehingga untuk itu pertumbuhan 5,11 persen perlu ditingkatkan kualitasnya, dan nilai investasi sebesar Rp1.931,2 triliun perlu semakin diarahkan kepada kegiatan produktif dan penciptaan nilai tambah. Salah satunya hilirisasi perlu menghasilkan industri yang semakin kuat dan kompetitif, dan pengembangan ekspor perlu semakin beragam serta berbasis produk bernilai tambah.
Penurunan kemiskinan perlu dilanjutkan hingga masyarakat yang berada di sekitar garis kemiskinan memperoleh ketahanan ekonomi yang lebih kuat. Dengan demikian, agenda Indonesia Emas tahun 2045 sesungguhnya adalah agenda untuk mengubah pertumbuhan menjadi kesejahteraan, investasi menjadi produktivitas, sumber daya alam menjadi nilai tambah, dan bonus demografi menjadi kekuatan ekonomi.
Perjalanan menuju Indonesia Emas tahun 2045 juga membutuhkan kesinambungan kebijakan. Pergantian pemerintahan merupakan bagian dari demokrasi, tetapi pembangunan bangsa harus memiliki kesinambungan visi. Sebab Indonesia Emas bukan proyek satu pemerintahan.Ia merupakan proyek lintas generasi, dan itu adalah bagian dari cita-cita bersama dalam mencapai tujuan kehidupan Bangsa yang adil dan makmur.
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.