Menjemput peluang ekspor, menembus pasar dunia
Sabtu, 17 Oktober 2026 23:45 WIB
Sejumlah produk milik Roemah Koffie yang dipamerkan di Product Placement Pilihan BuSan x UMKM BISA Ekspor pada gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
Jakarta (ANTARA) - Mendapatkan pembeli dari luar negeri bukan perkara mudah bagi pelaku usaha yang baru merintis ekspor. Selain memiliki produk berkualitas, pelaku usaha perlu memahami karakter pasar, menjaga konsistensi produksi, hingga membangun kepercayaan dengan calon pembeli.
Pengalaman itu dirasakan Thio Siujinata, pemilik usaha kriya Craftote, yang mulai mengenal pasar ekspor melalui Trade Expo Indonesia (TEI) pada 2023. Berawal dari ketidaktahuan mengenai mekanisme perdagangan internasional, ia kini telah melakukan tujuh kali pengiriman produk ke Kanada sejak ekspor perdananya pada 2024.
Bagi Thio, TEI bukan sekadar tempat memamerkan produk, melainkan pintu untuk belajar dan mengembangkan usaha. Melalui fasilitas Kementerian Perdagangan, ia memperoleh akses ke calon pembeli mancanegara sekaligus kesempatan mengikuti pembinaan desain untuk meningkatkan daya saing produknya.
Perjalanan Craftote memperlihatkan bagaimana dukungan akses pasar dan pengembangan kapasitas dapat membantu usaha lokal melangkah menuju ekspor. Sementara itu, bagi perusahaan yang telah memiliki pengalaman perdagangan internasional, TEI menjadi kesempatan untuk menjangkau pembeli dan pasar baru.
Dari nol
Thio membangun usahanya berangkat dari keinginan membuka kesempatan kerja bagi anak-anak panti asuhan. Dengan latar belakang desain grafis dari Institut Kesenian Jakarta, ia bersama istrinya mendirikan Crafted Gallery & Coffee, usaha yang memadukan galeri kerajinan tangan dengan kedai kopi.
Pada awalnya, usaha tersebut berjalan dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Kesempatan berkembang muncul setelah salah satu produknya mendapat penghargaan dalam pameran Kriyanusa pada 2023. Dari sana, Craftote memperoleh kesempatan mengikuti TEI.
Thio mengaku belum memahami bagaimana proses ekspor bekerja ketika pertama kali bertemu calon pembeli dari Jepang dan Kanada.
"Pertama kali ikut TEI pada 2023, kami senang, tetapi sebenarnya belum mengerti apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba bertemu buyer dari Jepang dan Kanada. Ibaratnya, orang yang belum bisa berenang langsung diceburkan ke kolam," kata Thio saat berbincang di ICE BSD, Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut menjadi awal pembelajaran. Thio mulai memahami pentingnya menindaklanjuti komunikasi dengan calon pembeli, mempelajari mekanisme pengiriman sampel, hingga mengurus kebutuhan ekspor.
Hasilnya tidak datang seketika. Craftote baru melakukan pengiriman perdana ke Kanada pada 2024. Namun, hubungan dengan pembeli tersebut terus terjaga hingga kini, dengan total tujuh kali pengiriman. Pada Juni 2026, Craftote bahkan mengirim satu kontainer berukuran 40 kaki dengan nilai sekitar Rp160 juta.
Perkembangan itu turut didukung pembinaan desain dari Indonesia Design Development Center (IDDC) di bawah Kementerian Perdagangan. Melalui fasilitas tersebut, Thio berkonsultasi untuk mengembangkan produk agar tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki fungsi dan sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu hasil pengembangannya adalah produk lampu berbahan bambu yang semula dirancang sebagai lentera dekoratif. Craftote juga mengembangkan kerajinan berbahan eceng gondok dan pelepah pisang menjadi tas serta keranjang dengan desain yang lebih beragam.
Menurut Thio, pembinaan tersebut memberinya pemahaman bahwa pengembangan produk membutuhkan riset dan pengembangan, bukan hanya kreativitas.
Di TEI 2026, Craftote kembali mencari peluang pasar baru. Usaha tersebut memperoleh penjajakan bisnis dengan calon pembeli dari Australia dan Finlandia, dengan potensi transaksi sekitar 40.000 dolar AS. Meski belum terjadi kesepakatan final, pertemuan itu membuka kesempatan untuk memperluas pasar di luar Kanada.
Thio juga melibatkan kelompok perajin dari sejumlah daerah dalam proses produksi. Dengan membagi pekerjaan sesuai keahlian dan kapasitas masing-masing kelompok, ia berupaya menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi pesanan.
Bagi Thio, pengalaman mengikuti TEI dan pembinaan Kemendag membuatnya tidak hanya memperoleh calon pembeli, tetapi juga pengetahuan untuk mengembangkan usaha dan memahami persyaratan pasar internasional.
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026