Liputan6.com, Canberra - Dalam sebuah video yang viral di internet, seekor induk lumba-lumba yang berduka bernama Fraggle membawa bangkai anaknya melintasi Samudra Hindia selama enam hari. Rekaman drone yang diambil oleh Geographe Marine Research, sebuah organisasi konservasi Australia, memperlihatkan Fraggle bersama bayinya yang baru berusia dua minggu.
View this post on Instagram
A post shared by Geographe Marine Research (@geographemarineresearch)
Dikutip dari The Times of India, Jumat (7/8/2026), yang membuat publik terharu adalah Fraggle sudah kehilangan empat bayinya sebelum ini. Para lumba-lumba lain terlihat mengikuti induk tersebut selama masa berkabungnya. Seluruh kawanan yang terdiri dari 14 lumba-lumba datang untuk Fraggle (namanya diambil dari karakter Muppet dalam serial Fraggle Rock) dengan berenang di sisinya untuk memberikannya dukungan.
Para peneliti mencatat bahwa anak lumba-lumba tersebut menunjukkan laju pernapasan yang tinggi sebelum mati. Selain itu, kelahiran di musim dingin di wilayah tersebut diketahui menimbulkan tantangan besar bagi kelangsungan hidup, sering kali dikaitkan dengan komplikasi pernapasan akibat udara dingin. Para ilmuwan tersebut telah mendokumentasikan perilaku berkabung yang mirip pada lumba-lumba dan paus, di mana mereka membawa anak mereka yang telah mati.
Beberapa spesies cetacea yang telah diamati menunjukkan perilaku yang mengindikasikan bahwa mereka berduka atas kematian anggota kelompoknya. Beberapa induk lumba-lumba menggendong anaknya di punggung selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Salah satu kisah yang memilukan adalah Tahlequah, seekor induk orca yang menggendong bayinya yang telah mati selama 17 hari sambil menempuh perjalanan sejauh 1,609 kilometer sebelum akhirnya melepaskan sang bayi.
Dalam studi tahun 2018 yang dipublikasikan di Zoology, para ilmuwan menemukan bahwa setidaknya 20 spesies cetacea menunjukkan suatu bentuk “perilaku perhatian pasca-kematian” atau duka bagi manusia. Dari 20 spesies tersebut, sebagian besar adalah lumba-lumba, bukan paus. Berdasarkan “hipotesis otak sosial,” hewan yang memiliki struktur sosial yang kompleks seperti lumba-lumba, umumnya memiliki otak yang relatif lebih besar. Otak yang besar berkaitan dengan perasaan yang lebih kompleks dan mungkin juga pemahaman terhadap konsep kematian.