Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta para Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di seluruh Indonesia mengukur keberhasilan pelatihan dari jumlah alumni yang terserap di pasar kerja atau tingkat kebekerjaan, bukan sekadar dari banyaknya peserta yang dilatih.
Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyebut perubahan cara pandang BPVP kini diperlukan untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan, termasuk pengangguran dan kompetensi lulusan.
“Jangan lagi membanggakan berapa banyak orang yang sudah dilatih, tetapi berapa banyak orang yang setelah dilatih bisa langsung bekerja. Itu yang harus kita kejar bersama,” kata Yassierli.
Untuk membekali lulusan baru dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Magang Nasional (MagangHub) bagi lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi.
Lebih lanjut, ia mengatakan Kemnaker juga akan menghadirkan Pusat Pelatihan Khusus Disabilitas di Bekasi untuk membuka akses pelatihan dan peluang kerja bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, Menaker Yassierli meminta jajaran BPVP memandang balai sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah. Karena itu, kerja balai harus diarahkan untuk menyukseskan program Kemnaker dan program pemerintah pusat secara keseluruhan.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Yassierli menyampaikan empat pilar budaya kerja di lingkungan BPVP, yaitu kekuatan persatuan dan kesatuan langkah, penguatan peran setiap individu, organisasi yang lincah dan adaptif terhadap perubahan, serta berani bersuara dan menyampaikan kebenaran secara proaktif.
Yassierli juga berpesan agar seluruh jajaran tidak cepat puas, menjaga integritas, mengedepankan inovasi, dan memberi ruang bagi setiap instruktur untuk berkembang, sehingga balai pelatihan menjadi tempat tumbuh yang nyaman bagi para peserta.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menaker minta BPVP ukur keberhasilan pelatihan dari kebekerjaan alumni
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.