Menurutnya, pihak pelapor telah menyerahkan bukti-bukti dan menghadirkan saksi serta ahli untuk mendukung laporan tersebut.
Namun, Rio mengaku belum tahu apakah pendiri Akademi Crypto, Timothy Ronald dan Kalimasada, telah dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan.
"Pemanggilan Timothy dan Kalimasada oleh Polda Metro Jaya sampai sekarang kita belum tahu, apakah mereka sudah dipanggil atau tidak," katanya.
Baca Juga: Korban Akademi Crypto Diajari Investasi secara Total, Diminta Jual Rumah untuk Beli Altcoin
Rio menilai dugaan tindak pidana dalam perkara tersebut sangat kuat. Di mana, korban sebelumnya mendapat iming-iming keuntungan apabila mengikuti kelas pelatihan dan membeli aset kripto yang direkomendasikan.
"Timothy dan Kalimasada mengiming-imingi member-nya, beli ini nanti akan profit. Tapi nyatanya rungkad alias rugi," ujarnya.
Rio mengatakan, sejumlah korban bahkan telah membayar hingga Rp50 juta untuk menjadi member Akademi Crypto.
Dalam perkembangannya, jumlah korban yang tergabung dalam paguyuban mencapai sekitar seratus orang dengan total kerugian mencapai Rp200 miliar.
Sementara itu, Younger mengatakan, dirinya mengikuti Akademi Crypto karena termakan bujuk rayu dan janji keuntungan yang disampaikan Timothy Ronald dan Kalimasada.
Baca Juga: Jangan Jadi Mafia, Korban Penipuan Akademi Crypto Tantang Timothy Ronald dan Kalimasada Berani Diperiksa Polisi
Kerugiannya terjadi secara bertahap karena terus didorong untuk membeli aset kripto.
"Saya beli harga tiga dolar sampai sekarang sampai 0,06 dolar. Bayangkan turunnya berapa ribu persen dan kerugian tiga miliar rupiah," kata Younger.
Dia mengaku sampai mengalihkan modal usahanya ke aset kripto karena percaya pada janji-janji keuntungan tersebut.
Bantahan Timothy Ronald
Menurut Younger, terakhir kali diperiksa penyidik Polda Metro Jaya pada Agustus 2026. Dalam pemeriksaan itu, muncul bantahan dari pihak Timothy Ronald mengenai materi money management yang menjadi salah satu persoalan.
Younger mengatakan, materi tersebut belum ada pada 2024 ketika dirinya mengikuti kelas. Materi mengenai money management baru muncul di tahun 2025 setelah banyak anggota Akademi Crypto mengalami kerugian.
Baca Juga: Kasus Penipuan Akademi Crypto Timothy Ronald Jalan di Tempat, Ada Apa?
Younger juga menuding pihak Akademi Crypto membungkam anggota yang menyampaikan kritik. Ia mencontohkan kejadian pada Sabtu (29/8/2026) lalu ketika menghadiri acara seminar investasi Timothy Ronald. Di mana dirinya justru diusir setelah mengajukan pertanyaan.
"Saya tidak membuat onar, rusuh. Saya bertanya secara sopan tapi saya langsung diusir," ujarnya.
Rio mengatakan, pihaknya telah menempuh berbagai cara untuk meminta penyelesaian kasus, mulai dari berunjuk rasa di Gedung DPR, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Polda Metro Jaya.
Ia juga menyebut terdapat korban di Kalimantan yang hingga kini belum mendapatkan perkembangan kasus.
Rio mendesak Polda Metro Jaya segera menentukan kelanjutan laporan tersebut. Perkara itu setidaknya memiliki unsur korban, kerugian, dan dugaan tipu muslihat.
Baca Juga: Kasus Penipuan Akademi Crypto Mandek, Korban Timothy Ronald Daftarkan Permohonan RDPU ke DPR
"Jangan digantung. Karena menurut kita ini jelas pidananya. Ada korban, ada kerugian, ada tipu muslihat yang dilakukan, tapi sampai sekarang tidak ada perkembangan," ujarnya.