Minggu, 18 Oktober 2026 - 00:05 WIB
Jakarta, VIVA – Penggunaan dry ice atau karbon dioksida padat untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mendapat perhatian media internasional. Sejumlah media asing, termasuk The Guardian, menyoroti metode yang diuji pemerintah untuk mengurangi dampak asap terhadap kualitas udara.
Baca Juga
Dalam pemberitaannya, media tersebut mengulas langkah Indonesia menggunakan dry ice setelah sejumlah upaya penanganan karhutla dilakukan, mulai dari operasi modifikasi cuaca, pemadaman melalui udara atau water bombing, hingga pengerahan personel di lapangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Media tersebut mengutip Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman yang menyebut uji coba tersebut dilakukan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk membantu mengatasi kabut asap di Sumatera Selatan.
Baca Juga
“Uji coba penyebaran dry ice ini dilakukan atas instruksi langsung Presiden untuk membantu mengatasi kabut asap di Sumatera Selatan,” demikian pernyataan Dudung, dikutip dari The Guardian, Minggu (18/10/2026).
Dudung mengatakan, pemerintah akan mengevaluasi hasil uji coba sebelum mempertimbangkan penerapan metode serupa di wilayah lain.
Baca Juga
“Kami akan terlebih dahulu mengamati hasilnya, dan jika efektif, ada kemungkinan metode ini diterapkan di wilayah lain.”
Kemenhut Laporkan Peningkatan Jarak Pandang
Di tengah sorotan media asing, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan hasil sementara operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan dry ice di Sumatera Selatan. Operasi yang melibatkan Kemenhut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI tersebut berlangsung pada 16 hingga 25 Oktober 2026.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri menjelaskan, dry ice digunakan untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi atmosfer di lapangan dan dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl) apabila kondisi mendukung pembentukan awan hujan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Semai dry ice menjadi metode untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Operasi dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer di lapangan dan dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) apabila kondisi atmosfer mulai mendukung pertumbuhan awan hujan,” kata Thomas.
Berdasarkan data sementara BMKG, operasi tersebut diikuti peningkatan jarak pandang di Sumatera Selatan dari 300 meter pada pukul 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk menyesuaikan operasi dengan perkembangan kondisi atmosfer.
Halaman Selanjutnya
Pada hari pertama pelaksanaan, satu penerbangan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai dry ice ke wilayah sekitar Palembang. Untuk hari berikutnya, penerbangan direncanakan sebanyak dua kali atau disesuaikan dengan kondisi cuaca.