Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Blora, Artika Diannita, Perubahan paling terlihat terdapat pada mekanisme pengambilan makanan. Jika sebelumnya makanan dibagikan dengan porsi tertentu, dalam sistem prasmanan siswa dapat mengambil sendiri makanan yang tersedia sesuai kebutuhan.
Artika menyebut respons siswa terhadap pola tersebut cukup positif. “Kalau kita lihat anak-anak lebih antusias, lebih senang ketika mereka dapat mengambil makanannya sendiri karena bisa disesuaikan sama keinginan. Jadi ngambilnya sesuai, enggak dibuang-buang atau mubazir,” ujarnya.
Uji coba MBG prasmanan di SDN 5 Ngawen akan berlangsung selama dua minggu. Pelaksanaan tersebut akan dipantau dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas sistem sebelum hasilnya disampaikan kepada BGN.
“Untuk uji coba ini dilaksanakan dua minggu. Jadi setelahnya kita akan evaluasi juga, kita laporkan hasil dari lapangan. Untuk selanjutnya kita dari BGN yang langsung untuk melanjutkan atau gimana,” kata Artika.
Selain memberi keleluasaan kepada siswa dalam mengambil makanan, sistem prasmanan juga dirancang untuk mendukung proses penyajian yang lebih terkontrol. Makanan dapat langsung diambil dan dikonsumsi siswa dalam kondisi hangat.
“Maka ketika di sistem prasmanan itu proses pendistribusiannya masih dalam kondisi hangat. Jadi ketika disajikan dan dinikmati oleh siswa-siswa itu masih kondisinya hangat,” ujar Artika.
Konsep prasmanan juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya mengantisipasi persoalan dalam pelaksanaan program MBG. Proses penyajian makanan yang lebih terkontrol menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam sistem tersebut.
Di sisi lain, konsep ini juga membawa misi pendidikan bagi siswa. Mereka dibiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan, bertanggung jawab terhadap makanan yang diambil, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.