Markas Aramco Dirudal, Houthi Yaman Ancam Ratakan Bandara Saudi!

2026/10/15

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi Yaman bersumpah akan terus melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap sejumlah bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi. Ancaman mematikan ini muncul tepat sehari setelah sebuah serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan parah pada markas besar raksasa minyak Saudi Aramco.

Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), Houthi pada hari Rabu menyatakan bahwa lokasi-lokasi yang diancam tersebut merupakan target yang sah. Menurutnya, ini merupakan sebuah respons atas serangan Saudi ke sejumlah titik di Yaman.

"Serangan itu sebagai bentuk pembalasan atas tindakan Arab Saudi di wilayah Yaman," ujar kelompok sokongan Iran tersebut.

Selama seminggu terakhir, Arab Saudi terus menghadapi rentetan serangan Houthi yang semakin meluas, termasuk serangan di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh pada hari Sabtu lalu yang menewaskan 13 orang. Terkait serangan pada Selasa malam di pangkalan Saudi Aramco di kota timur Dhahran, tiga sumber membeberkan bahwa insiden itu memicu kebakaran yang menyebar di beberapa lantai, bertolak belakang dengan klaim Kementerian Energi Saudi sebelumnya yang menyatakan serangan itu hanya menyebabkan kebakaran terbatas.

Dua sumber menyebutkan bahwa operasi di Aramco saat ini masih berlanjut secara normal dengan karyawan yang bekerja dari rumah, sementara pihak perusahaan belum memberikan tanggapan resmi. Konflik yang terus memanas ini secara nyata telah memberikan pukulan telak bagi rencana ambisius Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengubah dan mendiversifikasi ekonomi Saudi serta mengurangi ketergantungannya pada minyak.

Di tengah eskalasi tersebut, koalisi pimpinan Saudi melaporkan bahwa mereka telah berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi ke arah Riyadh pada hari Rabu. Beberapa ledakan keras terdengar di ibu kota Saudi, disusul oleh peringatan ancaman udara yang dikeluarkan otoritas setempat sebelum akhirnya dicabut. Kantor media pemerintah Saudi tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait penyebab pasti dari rentetan ledakan tersebut.

Melalui pernyataan resminya pada hari Rabu, kelompok Houthi mengeklaim bahwa mereka telah meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Dhahran, bandara Riyadh, serta kilang Aramco di Riyadh. Dalam sebuah ancaman terbuka, mereka mendesak perusahaan pelayaran internasional, warga sipil, dan para pekerja untuk segera mengevakuasi diri dari seluruh bandara dan fasilitas minyak Saudi.

Kompleks Dhahran sendiri diketahui menampung pusat operasi utama bagi Aramco yang mengawasi jaringan luas anjungan minyak darat dan lepas pantai, jaringan pipa, kilang, hingga terminal ekspor. Sementara itu, bandara internasional Riyadh telah diserang sebanyak empat kali, termasuk insiden hari Sabtu yang tercatat sebagai serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam satu dekade terakhir. Pihak berwenang terpaksa menutup bandara tersebut hingga 17 Oktober mendatang dan sejumlah maskapai penerbangan telah membatalkan penerbangannya ke Arab Saudi.

Arab Saudi mulai campur tangan dalam perang saudara Yaman pada tahun 2015 silam untuk mendukung pemerintah setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa. PBB sempat menengahi gencatan senjata pada tahun 2022 yang menjaga perdamaian rapuh hingga tahun ini. Namun, Arab Saudi melanjutkan kampanye militernya bulan lalu guna membalikkan perolehan tiba-tiba Houthi yang menyapu pesisir Laut Merah hingga ke Selat Bab el-Mandeb yang strategis. Houthi menegaskan bahwa mereka hanya membalas dukungan kerajaan terhadap pasukan pemerintah Yaman dalam perang yang kembali meletus tersebut.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini pun semakin mengerikan. Palang Merah pada hari Rabu menyatakan bahwa rumah sakit di seluruh Yaman berjuang keras untuk mengatasi lonjakan tajam jumlah korban perang seiring pertempuran yang semakin intensif di berbagai garis depan. Secara bersamaan, Program Pangan Dunia (WFP) milik PBB memperingatkan bahwa bantuan penyelamat jiwa telah terputus ke kota Taiz yang dikuasai pemerintah menyusul pengepungan oleh pejuang Houthi pada awal bulan ini.

"WFP dan para mitranya tidak dapat mengakses lebih dari 600.000 orang di Taiz yang bergantung pada bantuan kemanusiaan, termasuk lebih dari 200.000 wanita dan anak-anak," papar WFP dalam sebuah pernyataan.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]