Manisnya madu galo-galo anak berkebutuhan khusus dari Kota Arang

2026/09/17

Sawahlunto (ANTARA) - Udara sejuk di kawasan pegunungan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat mengalir mengikis terik matahari yang sore itu perlahan mulai kembali keperaduannya.

Di antara rimbun vegetasi hijau yang membingkai kota bersejarah tersebut, terdengar dengung halus ribuan lebah kelulut atau yang dikenal masyarakat lokal lebah galo-galo.

Diiringi beberapa orang tua, sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) perlahan mendekat ke sejumlah kotak kayu berukuran sedang yang tersebar di beberapa titik kebun di area itu.

Jemari cermat mereka perlahan membuka tutup kotak koloni lebah bernama latin “Trigona sp”, lalu membuka sedikit rongga kantung propolis hitam yang berisi cairan manis keemasan.

Aktivitas itu membuat koloni lebah yang sebelumnya tenang di dalam sarang, mulai keluar dan mengitari anak-anak penyandang disabilitas yang sedari awal tampak antusias. Tak ada rasa gentar ataupun panik saat lebah-lebah kecil tanpa sengat itu terbang dan hinggap di lengan mereka.

Keterbatasan fisik dan sensorik tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar membudidayakan lebah galo-galo di kawasan perbukitan kota bersejarah itu.

Terlebih bagi belasan anak yang tergabung dalam Kelompok Disabilitas ABK Mandiri itu, sedotan demi sedotan madu galo-galo bukan sekadar aktivitas pertanian biasa.

Sebab, dari sarang koloni lebah galo-galo sebuah komunikasi dan rasa kebersamaan muncul untuk saling peduli serta menguatkan sebagai sesama anak penyandang disabilitas.

Senyum Ringan Khairan

Khairan Alfira Mandha merupakan seorang anggota Kelompok Disabilitas ABK Mandiri yang kegiatan budi daya lebah galo-galo berpusat di Desa Saringan, Kecamatan Beringin, Kota Sawahlunto.

Remaja 18 tahun itu didiagnosis mengidap “attention deficit hyperactivity disorder” (ADHD). Kondisi itu membuat dirinya sulit berkonsentrasi, terlalu aktif dan terkadang bertindak tanpa berpikir panjang.

Namun, hal tersebut perlahan berubah setelah sejumlah orang tua dengan anak penyandang disabilitas lainnya mulai diperkenalkan dengan aktivitas budi daya madu galo-galo.

Niat para orang tua untuk memberikan kegiatan positif dan melatih kemandirian anak-anak spesial tersebut perlahan mulai berbuah manis.

Rasa takut yang mereka hadapi saat pertama kali diperkenalkan dengan lebah tanpa sengat itu, mulai hilang seiring rutinnya kegiatan pengenalan yang dilakukan kelompok yang beranggotakan 11 orang tersebut.

Bagi Khairan menghadapi lebah bukanlah hal yang menakutkan, melainkan sebuah momen yang selalu dinanti karena dapat bersama-sama dengan teman lainnya.

Bahkan, senyum polos tetap terpancar dari bibir Khairan kendati saat proses memanen madu gagal dilakukan karena kendala teknis pada mesin penyedot madu.

“Tadi panennya tidak bisa, ada kendala, baterai mesinnya habis tetapi aku tetap senang,” ujarnya dengan lugu.

Ratusan hingga ribuan lebah galo-galo hilir mudik beterbangan bahkan tak jarang juga mengerubunginya. Hebatnya, hal itu tidak membuatnya takut apalagi jera untuk terus memanen madu dengan cita rasa manis dan sedikit asam tersebut.

“Tidak takut, kan tidak ada sengatnya. Jadi tidak perlu takut,” katanya sembari tertawa.

Lebah galo-galo memang merupakan spesies lebah stingless (tidak bersengat) yang sangat aman dibudidayakan, termasuk oleh anak-anak penyandang disabilitas.

Karakteristik lebah yang ramah ini membuat anak-anak dapat berinteraksi secara langsung tanpa dibayangi rasa sakit atau bahaya sengatan.

Bagi Khairan, hal paling membahagiakan dari aktivitas budi daya madu galo-galo bukanlah semata-mata hasil panennya, melainkan kesempatan untuk berkumpul dan beraktivitas bersama teman-teman sebaya.

Di lokasi budi daya, rasa canggung yang selama ini sering menghinggapi anak-anak berkebutuhan khusus lebur menjadi rasa kehangatan.

“Senang, bisa berkumpul bersama teman sekalian. Terkadang juga ada bercanda-bercanda,” ujar dia.

Dalam kesederhanaan itu pula kegiatan produktif ia lakukan bersama anak-anak lainnya. Tak ada yang dibedakan, apalagi ditinggalkan. Hal itu juga yang membuatnya yakin mewujudkan sejuta cita yang selama ini tergantung karena keraguan.

Sebab, melalui aktivitas memanen madu tersebut Khairan tidak lagi diposisikan sebagai sosok yang memerlukan belas kasihan, tetapi seorang penangkar muda yang secara aktif memanen rezeki untuk mewujudkan kemandirian hidup.

Seorang anggota kelompok Difabel ABK Mandiri memanen madu lebah kelulut yang dibudidayakan di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari

Melawan Stigma, Menenun Mandiri

Di balik kepiawaian Khairan dan teman-temannya mengekstraksi madu galo-galo, ada peran dingin dan kepekaan nurani para orang tua yang tak kenal lelah merajut asa anak-anak spesial tersebut.

Ketua Kelompok Disabilitas ABK Mandiri Kota Sawahlunto, Delvia Syandra menceritakan kegiatan yang digagas pada 2024 itu berawal dari sebuah rasa prihatin terhadap realitas sosial yang dihadapi anak-anak itu.

Saat itu, masyarakat masih belum sepenuhnya inklusif dan ramah terhadap keberadaan anak berkebutuhan khusus, sehingga banyak orang tua memilih menutup diri karena bingung mencari wadah pengembangan potensi buah hati mereka.

“Kami prihatin dengan kehidupan masyarakat yang belum peduli dengan anak berkebutuhan khusus," kata dia.

Jauh sebelum hari ini, tidak ada komunitas. Orang tua hanya berharap ada tempat untuk anak-anak mereka bisa bergabung termasuk mereka sendiri untuk meluapkan perasaannya.

Didorong rasa untuk maju bersama, Delvia kemudian mengumpulkan para orang tua yang memiliki komitmen untuk membentuk kelompok Disabilitas ABK Mandiri dengan keanggotaan awal sebanyak 10 orang.

Harapannya tidak saja sebagai wadah untuk bertukar pikiran antarsesama orang tua, tetapi juga sebagai wadah komunikasi sesama anak berkebutuhan khusus, serta melatih komunikasi dan percaya diri dalam bersosial.

Terlebih kelompok yang saat ini beranggotakan 13 orang tersebut terdapat beragam disabilitas yang disandang masing-masing anak mulai dari autisme, down syndrome, ADHD, disleksia hingga tunagrahita.

Sehingga untuk mengajarkan budi daya galo-galo kepada anak-anak dengan berbagai kondisi khusus tersebut bukanlah perkara yang mudah.

Dibutuhkan waktu, kesabaran ekstra, dan pendekatan emosional yang intensif selama kurang lebih satu tahun untuk mengenalkan tahapan-tahapan budi daya secara lengkap.

"Itulah PR untuk orang tua dan pembina. Bagaimana mereka di tiap kegiatan dilatih. Alhamdulillah, setelah dua tahun ini, dari yang tadinya takut lebah, yang ngomel-ngomel datang ke kelompok, sekarang sudah biasa," jelas dia.

Satu tahun pendekatan emosional dan intensif tersebut, akhirnya membuat anak-anak spesial kini telah memahami alur kerja sistematis tanpa harus dibantu oleh orang tua mereka.

Mereka tahu tahapannya: datang, buka, ambil palu, pukul-pukul, dapat yang hitam itu propolis dimasukkan ke kantong, lalu ambil madu. Tahapan-tahapan seperti itu sudah membuka keseriusan mereka untuk mandiri, katanya.

Lebih dari sekadar keterampilan teknis panen, program ini juga memicu transformasi perilaku dan psikologis yang signifikan pada diri anak-anak.

Anak-anak yang dulunya tertutup dengan lingkungan sekitarnya, kini mulai aktif belajar berkomunikasi, memahami nilai kerja keras, hingga mengagumi keteraturan alam semesta.

"Pencapaian paling signifikan adalah happy. Mereka bahagia. Mereka tahu manfaat madu, mereka tahu mencintai lingkungan. Mereka tahu kalau lebah suka bunga kalimat sederhana yang mereka narasikan sendiri di pikiran mereka," ucapnya.

Bagi Kelompok ABK Mandiri, visi utama program ini bukanlah semata-mata orientasi ekonomi komersial, melainkan pembentukan kemandirian jangka panjang.

Target utamanya adalah menyiapkan anak-anak agar kelak mampu berdiri di atas kaki sendiri saat pendampingan orang tua tidak lagi ada di samping mereka.

“Kami tidak menyebut kelompok ini sebagai kelompok tani, tetapi kelompok kemandirian. Mandiri sesuai harapan para orang tau, saat mereka (orang tua) tidak ada, anak-anak ini sudah tahu hal-hal yang berharga dan menghargai kebersamaan,” tegas dia.

Perempuan dengan anak penyandang disabilitas ADHD dan tuna rungu itu optimis, budi daya ini bisa menjadi jalan kemandirian bagi anak penyandang disabilitas baik kelompok maupun diluar kelompok.

“Kami optimistis. Kami ingin membawa anak-anak ini ke masyarakat, tanpa ada lagi penilaian negatif atau rasa jijik terhadap anak-anak kami," kata dia.

Pilar Kedaulatan Untuk Ekonomi Inklusif

Keberlanjutan gerakan pemberdayaan berbasis komunitas ini tidak lepas dari sinergi dan kolaborasi antara kelompok dengan PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto yang memberi dukungan secara berkesinambungan.

Bahkan, dukungan perluasan titik budi daya bagi kelompok Disabilitas ABK Mandiri juga diberikan hingga ke Kecamatan Talawi, Lembah Segar dan hingga Silungkang.

Hal ini agar kebermanfaatan dari program pemberdayaan bagi anak berkebutuhan khusus tersebut, dapat semakin dirasakan oleh masyarakat lainnya di Kota Sawahlunto.

General Manager PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin Sawahlunto Yulfaizon menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam memfasilitasi anak-anak disabilitas merupakan manifestasi nyata dari komitmen "Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri".

Menurutnya, kekayaan bumi yang dikelola harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup dan kemandirian seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok rentan.

"Kenapa kami mengangkat komunitas ABK untuk memberdayakan mereka? Salah satunya adalah bagaimana mereka punya rasa percaya diri. Percaya diri kepada masyarakat, karena memang dengan keterbatasan itu, kita bisa menggali potensi yang ada di diri mereka," ujar Yulfaizon.

Ia menilai anak-anak penyandang disabilitas bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai "anak-anak super" yang memiliki bakat dan fokus unik sehingga perlu diberikan kesempatan dan ruang tumbuh yang tepat.

"Mereka anak-anak yang super, yang luar biasa. Dengan kondisi keterbatasannya, mereka mampu untuk bersaing ataupun berbuat sesuatu. Makanya kami siap memberikan dukungan penuh untuk kegiatan positif ini,” jelasnya.

Di sisi lain, budi daya madu galo-galo dinilai adaptif dan berisiko rendah (low risk) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Selain tidak berisiko sengatan bahaya, operasional budi daya tergolong ramah biaya serta memiliki nilai ekonomi yang kompetitif.

"Program ini adaptif. Kita menyiapkan koloninya, kita taruh di lokasi yang aman dari gangguan binatang buas. Sekali sebulan sudah bisa panen. Satu kilo saja bisa menghasilkan Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Ini potensi yang sangat besar untuk membantu ekonomi masyarakat," sebut dia.

Dukungan PTBA terhadap program ini telah berjalan secara konsisten selama dua tahun terakhir. Tidak saja memberikan bantuan fisik berupa koloni lebah dan sarana budi daya, PTBA juga mengawal keberlanjutan rantai pasok dan pemasaran hasil panen anak-anak disabilitas.

Hal ini untuk memastikan hasil produksi madu, propolis dan bee pollen yang dikumpulkan anak-anak terserap pasar secara pasti.

“Mereka bisa menjual sendiri hasilnya, atau kalau belum ada pangsa pasarnya, hasil panen akan ditarik oleh koordinator. Jadi pemasaran dijamin lancar,” Kata dia.

Selain itu, langkah yang dilakukan PTBA selaras dengan peta jalan pembangunan kawasan Sumatera Barat dimana Kota Sawahlunto dicanangkan sebagai pusat pengembangbiakan, dan produksi madu galo-galo daerah.

Terlebih saat ini PTBA Unit Pertambangan Ombilin Sawahlunto telah memiliki puluhan titik lokasi budi daya baik di wilayah Sawahlunto, maupun di luar daerah seperti Dharmasraya hingga Kabupaten Solok.

Bagi PTBA, pemberdayaan ekonomi inklusif melalui budi daya madu galo-galo menjadi pilar penting yang berjalan seiring dengan upaya revitalisasi ekonomi Kota Sawahlunto. Mulai dari sektor pariwisata, pergerakan UMKM, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga rencana pembukaan kembali aktivitas pertambangan secara bertanggung jawab.

Ketua Kelompok Difabel ABK Mandiri, Delvia Syandra (kiri) memberikan pemahaman kepada anak penyandang disabilitas terkait manfaat dari lebah kelulut di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari

Masa Depan Berdaya

Program pemberdayaan madu galo-galo bagi anak-anak disabilitas di Sawahlunto ini pada akhirnya memberikan wawasan baru tentang arti sejati dari kedaulatan sebuah bangsa.

Kedaulatan negeri tidak hanya diukur dari sejauh mana sumber daya alam di dalam perut bumi dieksplorasi, tetapi juga dari sejauh mana setiap warga negara termasuk mereka yang berkebutuhan khusus diberikan kedaulatan atas dirinya sendiri untuk hidup mandiri, berdaya dan bermartabat.

Melalui sinergi antara ketangguhan anak-anak ABK, ketulusan para orang tua serta komitmen berkelanjutan dari PT Bukit Asam, stigma terhadap disabilitas perlahan runtuh.

Senyum Khairan Alfira Mandha saat memegang botol madu murni hasil racikan jemarinya sendiri adalah bukti bahwa keterbatasan fisik dan sensorik bukanlah penghalang untuk berkarya.

Ketika lebah-lebah galo-galo terus terbang merambati kelopak bunga di perbukitan Sawahlunto untuk mengumpulkan tetes-tetes nektar, di situlah harapan anak-anak spesial ini terus disemaikan.

Tanah Ombilin yang dahulu dikenal karena hitamnya batu bara, kini memancarkan kilau manis keemasan dari manisnya kemandirian anak penyandang disabilitas.