Mangrove Medan Mas jaga pesisir sekaligus dorong pertumbuhan ekonomi - ANTARA News Kalimantan Barat

2026/07/27

Pontianak (ANTARA) - Perahu bergerak perlahan membelah aliran sungai yang tenang. Di kiri dan kanan, akar-akar mangrove mencengkeram tepian lumpur, sebagian menjulur ke permukaan air, membentuk benteng alami yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Di balik rimbunnya vegetasi mangrove itu, masyarakat perlahan menemukan cara baru untuk memandang alam di sekeliling mereka. Hutan mangrove tidak lagi dianggap sekadar kawasan yang tumbuh di antara daratan dan laut, tetapi juga ruang kehidupan yang menyimpan potensi ekonomi apabila dikelola secara bijaksana.

Kesadaran itulah yang kini coba dibangun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Medan Mas melalui pengembangan ekowisata berbasis pelestarian mangrove. Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Desa Medan Mas mendapat penghargaan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia tingkat kabupaten tahun 2024 sebagai desa wisata terbaik ketiga. Pengakuan tersebut menjadi pemantik semangat bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi desa, dengan menjadikan kelestarian alam sebagai bagian penting dari perjalanan wisata.

Ketua Pokdarwis Desa Medan Mas, Afif, mengatakan pengembangan ekowisata bukan semata-mata untuk mendatangkan wisatawan. Lebih dari itu, ekowisata diharapkan menjadi sarana untuk mengajak masyarakat memahami bahwa alam dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus dieksploitasi secara berlebihan.

Bagi masyarakat pesisir, gagasan tersebut bukan perkara sederhana. Sebagian warga sebelumnya masih menghadapi tantangan dalam memahami pentingnya menjaga kawasan mangrove dan sumber daya pesisir. Karena itu, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting dalam membangun perubahan cara pandang masyarakat.

"Melalui pendampingan dan pembelajaran, kami terus mengajak masyarakat bagaimana memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam untuk pertumbuhan ekonomi tanpa meninggalkan aspek pelestarian," ujar Afif.

Ia mengatakan ekowisata di Desa Medan Mas diharapkan mampu menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat, alam, dan pengetahuan. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mengenal kehidupan masyarakat pesisir dan memahami pentingnya keberadaan mangrove bagi keberlangsungan lingkungan.

Pelibatan masyarakat menjadi kunci dalam upaya tersebut. Warga didorong untuk ikut menjaga kawasan mangrove dan lingkungan sekitar, sekaligus memperoleh manfaat dari aktivitas wisata yang berkembang. Dengan cara itu, kelestarian alam dan peningkatan ekonomi diharapkan dapat berjalan beriringan.

"Harapan kami, ekowisata ini bisa berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkenalkan Desa Medan Mas kepada dunia," kata Afif.

Namun, menjaga pesisir bukan hanya tentang mangrove. Di perairan yang menjadi ruang hidup masyarakat, persoalan lain juga masih dihadapi. Pemanfaatan sumber daya laut dengan cara yang tidak ramah lingkungan menjadi tantangan yang harus diatasi bersama.

Ketua Kelompok Pengawasan Masyarakat (Pokmaswas) Medan Mas, Abu Hanifan, mengatakan pihaknya terus mendorong masyarakat untuk meninggalkan praktik penangkapan ikan yang berpotensi merusak ekosistem. Edukasi kepada nelayan dilakukan secara bertahap agar pemanfaatan sumber daya laut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

"Pelan-pelan kami ingin agar alat tangkap yang tidak ramah lingkungan bisa dihilangkan, terutama penggunaan racun yang dampaknya cukup berat terhadap lingkungan," kata Abu.

Bagi Abu, menjaga ekosistem pesisir adalah pekerjaan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Mangrove yang tumbuh di tepian daratan, perairan yang menjadi tempat nelayan mencari penghidupan, serta aktivitas masyarakat di desa merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem yang saling berkaitan.

Karena itu, dukungan berbagai pihak, termasuk organisasi nonpemerintah yang selama ini memberikan pendampingan kepada masyarakat, dinilai memiliki peran penting. Pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan menjadi bekal bagi warga untuk memahami cara menjaga alam sekaligus memanfaatkannya secara lebih bertanggung jawab.

Meski demikian, upaya pengawasan wilayah pesisir masih menghadapi keterbatasan. Sarana dan prasarana menjadi salah satu kendala yang dirasakan Pokmaswas, terutama ketika harus melakukan pemantauan di wilayah perairan yang luas. Kondisi cuaca buruk semakin menyulitkan kegiatan pengawasan karena keterbatasan armada yang dimiliki.

Abu berharap dukungan pemerintah dan berbagai pihak dapat terus diperkuat, terutama dalam penyediaan sarana pendukung pengawasan masyarakat. Dengan dukungan tersebut, masyarakat akan lebih mampu menjaga sumber daya laut dan kawasan pesisir yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan mereka.

Di Medan Mas, pelestarian mangrove akhirnya tidak berdiri sendiri. Ia bertaut dengan upaya membangun ekonomi, menjaga laut, memperkuat peran masyarakat, dan memperkenalkan desa kepada dunia. Dari akar mangrove yang menahan abrasi hingga perahu nelayan yang bergerak mencari penghidupan, semuanya menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana masyarakat pesisir berusaha bertahan dan tumbuh bersama alam.

Penghargaan sebagai desa wisata terbaik ketiga se-Kubu Raya menjadi sebuah pencapaian. Namun, bagi masyarakat Medan Mas, tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana menjaga agar potensi wisata tidak mengorbankan alam yang menjadi sumber kehidupannya.

Sebab, ketika mangrove tetap tumbuh, laut tetap terjaga, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan, maka ekowisata bukan sekadar tentang menghadirkan sebuah destinasi. Ia menjadi ikhtiar untuk memastikan bahwa alam dan manusia dapat terus hidup berdampingan, hari ini dan untuk generasi yang akan datang.

Pemberdayaan ekonomi

Di balik akar mangrove yang kokoh di pesisir Desa Medan Mas, tersimpan beragam potensi ekosistem air yang memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Selain kepiting bakau, udang, kerang dara, siput tutut serta potensi perikanan lainnya yang terus memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.

Namun, permasalahan sampah menjadi salah satu tantangan yang harus dipecahkan oleh masyarakat sekitar. Berangkat dari permasalahan tersebut, di desa itu, sekelompok warga yang tergabung dalam kelompok pengelola sampah mencoba melestarikan kawasan mangrove dengan mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi barang bernilai ekonomi.

Kelompok yang dibentuk pada 2021 tersebut lahir dari keresahan terhadap persoalan sampah di kawasan mangrove yang dihadapi masyarakat.

"Awalnya karena banyaknya sampah di desa kami. Kemudian kami berpikir bagaimana sampah ini bisa dikelola dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai," kata Desi, salah satu pengelola kelompok, saat ditemui di Desa Medan Mas.

Anggota kelompok kemudian mendatangi rumah-rumah warga untuk mengumpulkan sampah yang telah dipilah. Kemasan sabun cair, minyak, dan berbagai jenis plastik yang masih dapat digunakan dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi produk kerajinan.

Dari tangan warga, limbah itu berubah menjadi tas, tempat tisu, kipas, keranjang hingga wadah belanja. Sampah yang sebelumnya berpotensi berakhir sebagai sapai di lingkungan, perlahan diberi kehidupan kedua melalui kreativitas dan keterampilan masyarakat.

Kelompok menyediakan wadah pengumpulan agar kemasan bekas tidak langsung dibuang. Bagi masyarakat, langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.

Dukungan dari berbagai pihak turut memperkuat gerakan tersebut.

Di sisi lain, semangat membangun ekonomi dari potensi lokal juga terlihat dari tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat. Salah satunya usaha amplang yang dirintis Ayu sejak 2013 dari skala rumahan.

Pada awalnya, produksi amplang masih terbatas dan belum banyak dikenal. Pemasarannya pun hanya berputar di sekitar desa. Namun, keberanian membawa produk keluar dari Medan Mas dan memperluas pasar hingga Pontianak perlahan mengubah perjalanan usaha tersebut.

"Dulu saya hanya membuat sedikit dan belum semuanya laku. Setelah mulai berani membawa produk keluar, alhamdulillah ada peningkatan dan permintaan terus bertambah," kata Ayu.

Pertemuan dan pendampingan bersama berbagai pihak kemudian membuka peluang baru. Kapasitas produksinya meningkat, dari sebelumnya sekitar 700 kilogram hingga mencapai sekitar satu ton.

Perjalanan usaha Ayu menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat pesisir tidak harus bergantung pada satu sumber penghidupan. Potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, sementara aktivitas wisata dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun, menjaga alam sebagai fondasi ekonomi desa juga berarti memastikan sumber daya laut tetap lestari.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mangrove Medan Mas, menjaga pesisir menumbuhkan ekonomi 

Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.