Makin Populer, Ini Alasan Lari Bagus untuk Kesehatan

2026/08/24

CNN Indonesia

Senin, 24 Agu 2026 22:27 WIB

Runners in starting blocks
Ilustrasi. Makin populer, lari juga memiliki banyak manfaat kesehatan. (istockphoto/FangXiaNuo)

Jakarta, CNN Indonesia --

Lari biasanya identik dengan target jarak, catatan waktu, atau mengejar garis finis. Padahal, dari sisi kesehatan, manfaat olahraga ini sebenarnya tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh seseorang mampu berlari.

Berlari merupakan salah satu bentuk olahraga aerobik yang dapat membantu menjaga kebugaran jantung dan paru-paru. Jika dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh, aktivitas ini dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif.

Karena itu, mengikuti event lari tidak selalu tentang menjadi yang tercepat. Menyelesaikan beberapa kilometer sesuai kemampuan pun dapat menjadi kesempatan untuk bergerak sekaligus membangun kebiasaan olahraga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belakangan, makna event lari juga berkembang. Sejumlah penyelenggara mulai menggabungkan aktivitas olahraga dengan misi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Deloitte Runify 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/8). Lebih dari 600 karyawan Deloitte, klien, mitra, dan anggota komunitas mengikuti kegiatan tersebut dengan pilihan jarak 5 kilometer (km) dan 10 km.

Lari dan manfaatnya bagi tubuh

Sebagai olahraga aerobik, lari membuat tubuh bekerja lebih aktif untuk memenuhi kebutuhan energi selama bergerak. Aktivitas ini melibatkan kerja jantung dan paru-paru sehingga, apabila dilakukan secara rutin, dapat membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi.

Namun, kemampuan setiap orang dalam berlari tentu berbeda. Pemula tidak perlu langsung mengejar jarak jauh atau kecepatan tinggi. Intensitas dan jarak sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan tubuh.

Hal yang tidak kalah penting, olahraga sebaiknya dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, lari tidak hanya menjadi aktivitas sesekali ketika mengikuti event, tetapi bagian dari gaya hidup aktif.

Pilihan Redaksi

Konsep tersebut menjadi salah satu hal yang dapat dilihat dari event lari yang kini mulai membawa pesan lebih luas. Aktivitas fisik tetap menjadi inti kegiatan, tetapi peserta juga diajak memberikan dampak di luar dirinya sendiri.

Dalam Deloitte Runify 2026, aktivitas lari dipadukan dengan misi sosial melalui penggalangan dana. Dari penjualan tiket dan donasi, terkumpul lebih dari Rp170 juta yang akan digunakan untuk mendukung program pendidikan bagi pelajar dari kelompok masyarakat kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia Leader sekaligus Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, Brian Indradjaja, mengatakan kegiatan tersebut telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.

"Setiap peserta yang terlibat seperti karyawan, klien Deloitte, relawan, pendukung, dan donatur, telah berkontribusi dengan membantu memperluas akses terhadap pendidikan bagi generasi muda Indonesia sekaligus membuka jalan menuju berbagai peluang di masa depan," kata Brian.

Dengan demikian, kilometer yang ditempuh peserta tidak hanya berhenti pada pencapaian pribadi. Aktivitas olahraga juga dikaitkan dengan dukungan terhadap akses pendidikan.

Selain manfaat kesehatan dan dampak sosial, penyelenggaraan event olahraga juga menghadapi persoalan lingkungan. Mobilitas peserta, transportasi, hingga kebutuhan operasional selama acara dapat menghasilkan emisi karbon.

Karena itu, Deloitte bekerja sama dengan Jejakin untuk mengukur jejak karbon Deloitte Runify 2026. Pengukuran mencakup emisi yang berkaitan dengan aktivitas peserta, transportasi, dan operasional acara.

Jejak karbon yang dihasilkan kemudian akan dikompensasi melalui penanaman mangrove. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Aspek lingkungan juga diterapkan melalui pengelolaan limbah. Deloitte mengumpulkan limbah elektronik atau e-waste dengan mengajak karyawan menyumbangkan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan.

Bersama Olah Plastic, limbah plastik dan elektronik yang dikumpulkan dari kantor Deloitte kemudian dimanfaatkan menjadi sejumlah bagian acara, seperti medali finisher, elemen panggung, dinding foto, dan instalasi seni.

Konsep ini menunjukkan bahwa material yang berpotensi menjadi sampah dapat dialihkan untuk digunakan kembali. Edukasi mengenai ekonomi sirkular juga dilakukan melalui lokakarya upcycling yang diikuti 50 karyawan Deloitte. Dalam kegiatan tersebut, keyboard komputer yang sudah tidak digunakan diubah menjadi gantungan kunci.

(tis/tis)

placeholder