Lindungi Anak dari Influenza, IDAI Rekomendasikan Vaksinasi Tahunan

2026/09/23

Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk semua anak mulai usia 6 bulan di tengah kasus Influenza A yang tengah meningkat.

Vaksin tersedia dalam bentuk inaktif (trivalen atau kuadrivalen) dan hidup intranasal (untuk usia 2-49 tahun dengan kondisi sehat). Adapun vaksin influenza dapat mengurangi risiko infeksi hingga 40-60 persen, serta mengurangi keparahan penyakit dan komplikasi.

"Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin tahun ini dirancang untuk mencocokkan strain yang diprediksi akan bersirkulasi. Selain itu, vaksinasi pada anak juga melindungi anggota keluarga lain, terutama bayi di bawah 6 bulan yang belum bisa divaksinasi," jelas Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Selasa (22/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk anak yang terinfeksi virus influenza, IDAI merekomendasikan istirahat cukup, hidrasi adekuat, dan pemberian obat penurun demam sesuai indikasi. Pada pasien berisiko tinggi atau dengan gejala berat, obat sesuai resep dokter dapat diberikan dengan dosis berdasarkan usia dan berat badan, idealnya dalam 48 jam pertama.

"Kami mengingatkan bahwa pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat," pesan Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Selain itu, IDAI juga mengajak seluruh orang tua, guru, dan masyarakat untuk:

1.⁠ ⁠Vaksinasi influenza tahunan untuk anak dan anggota keluarga lainnya.
2.⁠ ⁠Terapkan protokol kesehatan secara konsisten: cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan.
3.⁠ ⁠Kenali gejala influenza dan segera konsultasikan ke dokter jika anak menunjukkan tanda bahaya.
4.⁠ ⁠Jangan memaksa anak sekolah saat sakit; isolasi sampai minimal 24 jam bebas demam tanpa obat penurun panas.
5.⁠ ⁠Hindari dehidrasi akibat cuaca panas kering dengan banyak minum air putih
6.⁠ ⁠Perkuat surveilans genomik dan akses RT-PCR untuk identifikasi subtipe, termasuk subklad K, guna mendukung manajemen kasus dan komposisi vaksin mendatang.

"Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak influenza pada anak dan keluarga. Lindungi anak, lindungi bangsa," tutup Prof Anggraini.

(suc/suc)