Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Jawa Timur menyebut lima jadwal penerbangan dengan tujuan Jakarta dibatalkan akibat peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di kawasan Selat Sunda.
"Kami menyampaikan bahwa penerbangan hari ini (Minggu) dari rencana lima penerbangan di cancel (dibatalkan) semua, ini karena adanya penutupan bandara di Jakarta setelah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Kepala UPT Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Purwo Cahyo Widhiatmoko melalui pesan WhatsApp yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu.
Kelima penerbangan terdampak erupsi GAK tersebut, terdiri dari empat maskapai Batik Air dan satu maskapai Citilink yang berangkat dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang dengan destinasi pendaratan di dua bandara di Jakarta, yaitu Bandara Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.
Berdasarkan data dari UPT Bandara Abdulrachman Saleh Malang, maskapai Batik Air terdapat dua jadwal penerbangan dengan rute Bandara Abdulrachman Saleh - Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang jadwal waktu keberangkatannya pada pukul 10.50 WIB dan pukul 15.05 WIB.
Sedangkan, maskapai Citilink yang memiliki rute serupa dijadwalkan berangkat dari bandara di Malang pada pukul 11.25 WIB.
Kemudian, untuk dua jadwal keberangkatan maskapai Batik Air dari Bandara Abdulrachman Saleh - Bandara Halim Perdanakusuma, yakni pada pukul 09.15 WIB dan 13.35 WIB.
Purwo menyampaikan total penumpang terdampak pembatalan penerbangan ini sekitar 1.110 orang.
Seluruh penumpang terdampak pembatalan jadwal penerbangan, disebutnya bisa mengajukan permohonan skema refund atau pengembalian biaya pembelian tiket maupun reschedule atau penjadwalan ulang kepada pihak masing-masing maskapai.
"Dilakukan monitor oleh personel yang ada di bandara," ujar dia.
Selain itu, pihaknya juga memastikan bahwa kondisi di Bandara Abdulrachmansaleh masih dalam posisi aman atau tidak ditemukan adanya debu vulkanik dari erupsi GAK.
"Kondisi bandara di Malang aman, tidak ada debu vulkanik," tutur dia.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.